Selasa, 03 Maret 2015

sekilas tentang riau ()

 Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah pulau Sumatera. Provinsi ini terletak di bagian tengah pantai timur Pulau Sumatera, yaitu di sepanjang pesisir Selat Melaka. Hingga tahun 2004, provinsi ini juga meliputi Kepulauan Riau, sekelompok besar pulau-pulau kecil (pulau-pulau utamanya antara lain Pulau Batam dan Pulau Bintan) yang terletak di sebelah timur Sumatera dan sebelah selatan Singapura. Kepulauan ini dimekarkan menjadi provinsi tersendiri pada Juli 2004. Ibu kota dan kota terbesar Riau adalah Pekanbaru. Kota besar lainnya antara lain Dumai, Selat Panjang, Bagansiapiapi, Bengkalis, Bangkinang dan Rengat.

Riau saat ini merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia, dan sumber dayanya didominasi oleh sumber alam, terutama minyak bumi, gas alam, karet, kelapa sawit dan perkebunan serat. Tetapi, penebangan hutan yang merajalela telah mengurangi luas hutan secara signifikan, dari 78% pada 1982 menjadi hanya 33% pada 2005. Rata-rata 160,000 hektar hutan habis ditebang setiap tahun, meninggalkan 22%, atau 2,45 juta hektar pada tahun 2009. Deforestasi dengan tujuan pembukaan kebun-kebun kelapa sawit dan produksi kertas telah menyebabkan kabut asap yang sangat mengganggu di provinsi ini selama bertahun-tahun, dan menjalar ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Luas wilayah provinsi Riau adalah 87.023,66 km², yang membentang dari lereng Bukit Barisan hingga Selat Malaka. Riau memiliki iklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 milimeter per tahun, serta rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari. Provinsi ini memiliki sumber daya alam, baik kekayaan yang terkandung di perut bumi, berupa minyak bumi dan gas, serta emas, maupun hasil hutan dan perkebunannya. Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, secara bertahap mulai diterapkan sistem bagi hasil atau perimbangan keuangan antara pusat dengan daerah. Aturan baru ini memberi batasan tegas mengenai kewajiban penanam modal, pemanfaatan sumber daya, dan bagi hasil dengan lingkungan sekitar.

Penduduk provinsi Riau terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Mereka terdiri dari Jawa (25,05%), Minangkabau (11,26%), Batak (7,31%), Banjar (3,78%), Tionghoa (3,72%), dan Bugis (2,27%). Suku Melayu merupakan masyarakat terbesar dengan komposisi 37,74% dari seluruh penduduk Riau. Mereka umumnya berasal dari daerah pesisir di Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, hingga ke Pelalawan, Siak, Inderagiri Hulu dan Inderagiri Hilir. Namun begitu, ada juga masyarakat asli bersuku rumpun Minangkabau terutama yang berasal dari daerah Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan sebagian Inderagiri Hulu. Juga masyarakat Mandailing di Rokan Hulu, yang lebih mengaku sebagai Melayu daripada sebagai Minangkabau ataupun Batak.


Rumah Tradisional Riau

Selaso Jatuh Kembar adalah Rumah adat di daerah Riau. Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan musyawarah adat. Corak dasar Melayu Riau umumnya bersumber dari alam, yakni terdiri atas flora, fauna, dan benda-benda angkasa. Benda-benda itulah yang direka-reka dalam bentuk-bentuk tertentu, baik menurut bentuk asalnya seperti bunga kundur, bunga hutan, maupun dalam bentuk yang sudah diabstrakkan atau dimodifikasi sehingga tak lagi menampakkan wujud asalnya, tetapi hanya menggunakan namanya saja seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergantung.

Di antara corak-corak tersebut, yang terbanyak dipakai adalah yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan (flora). Hal ini terjadi karena orang Melayu umumnya beragama Islam sehingga corak hewan (fauna) dikhawatirkan menjurus kepada halhal yang berbau “keberhalaan”. Corak hewan yang dipilih umumnya yang mengandung sifat tertentu atau yang berkaitan dengan mitos atau kepercayaan tempatan. Corak semut dipakai -walau tidak dalam bentuk sesungguhnya, disebut semut beriringkarena sifat semut yang rukun dan tolong-menolong. Begitu pula dengan corak lebah, disebut lebah bergantung, karena sifat lebah yang selalu memakan yang bersih, kemudian mengeluarkannya untuk dimanfaatkan orang ramai (madu). Corak naga berkaitan dengan mitos tentang keperkasaan naga sebagai penguasa lautan dan sebagainya. Selain itu, benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, matahari, dan awan dijadikan corak karena mengandung nilai falsafah tertentu pula.

Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas.

Rumah Lancang merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk panggung sehingga untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan bentuk ekspresi keyakinan masyarakat.


Pakaian Tradisional Riau

Pakaian Adat Melayu Riau ini adalah pakaian tradisional Riau, walaupun ada beberapa macam-macam namun hanya satu pakaian adat untuk daerah Riau, yaitu Pakaian Adat Melayu Riau. Bagi orang Melayu, pakaian selain berfungsi sebagai penutup aurat dan pelindung tubuh dari panas dan dingin, juga menyerlahkan lambang-lambang. Lambang-lambang itu mewujudkan nilai-nilai terala (luhur) yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

Dengan bersebatinya lambang-lambang budaya dengan pakaian, kedudukan dan peran pakaian menjadi sangat mustahak dalam kehidupan orang Melayu. berbagai ketentuan adat mengatur tentang bentuk, corak (motif), warna, pemakaian, dan penggunaan pakaian. Ketentuan-ketentuan adat itu diberlakukan untuk mendidik dan meningkatkan akhlak orang yang memakainya.

Pakaian Melayu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut ada makna dan gunanya. ”Semuanya dikaitkan dengan norma sosial, agama, dan adat-istiadat sehingga pakaian berkembang dengan makna yang beraneka ragam. Makna pakaian melayu juga dikaitkan dengan fungsinya, yaitu pakaian sebagai penutup malu, pakaian sebagai penjemput budi, dan pakaian sebagai penolak bala.

Pada kaum laki-laki terdapat tiga jenis pakaian adat melayu. Pertama, baju melayu cekak musang yang terdiri dari celana, kain dan songkok. Baju ini biasa digunakan pada acara-acara keluarga seperti kenduri. Kedua baju melayu gunting cina, baju ini biasa digunakan dalam sehari-hari dirumah untuk mengadakan acara yang tak resmi. Dan ketiga, baju melayu teluk belanga, baju ini terdiri dari celana, kain sampin dan penutup kepala atau songkok.

Sedang pakaian kaum perempuan ada dua yaitu pertama baju kurung, yang terdiri atas kain, baju dan selendang. Selendang dipakai dengan lepas di bahu dan biasanya tak melingkar di leher pemakai. Dan kedua, baju kebaya labuh, ynag terdiri atas kain, baju dan selendang. Panjang lengan baju kira-kira dua jari dari pergelang an tangan sehingga gelang yang dikenakan kaum perempuan kelihatan. Lebar lengan baju kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Kedalaman baju bervariasi dari sampai batas betis atau sedikit ke atas.

Bagi perempuan dalam berpakaian dilengkapi dengan siput (sanggul) yang terdiri atas tiga macam yaitu, siput tegang, siput cekak, dan siput lintang. dan tudung atau penutup kepala.


Senjata Tradisional Riau

Orang Melayu Riau mengenal berbagai jenis senjata tradisional, yang dikategorikan ke dalam senjata pendek (seperti jembia, keris, belati, badik, beladau, dan sabit), serta senjata panjang (tombak, kojou, pedang, seligi, dan sundang). Senjata-senjata tersebut tidak mutlak diperlukan. Dari sekian banyak jenis senjata tradisional yang ada, yang banyak dimiliki masyarakat adalah jenis pedang, tombak, keris, dan badik.

Pedang ‘jenawi’ merupakan sejenis senjata pedang yang dipergunakan oleh para panglima perang tempo dulu. Jenis senjata badik (sekin) yang umum digunakan adalah ‘tumbuk lada’, yang bentuknya seperti keris tetapi ukurannya lebih pendek.

Senjata ini digunakan untuk berperang dan keperluan sehari-hari. Pada mata badik yang untuk berperang sering diolesi dengan racun. Penggunaan badik untuk melawan musuh tersirat dalamungkapan: “Bila badik telah ditarik dari sarungnya, maka harus ditikamkan pada suatu benda atau binatang. Barulah kemudian badik dimasukkan pada sarungnya ”. Ungkapan inimenggambarkan, orang Melayu Riau pantang menyerah dalam menghadapi segalatantangan.


Bahasa Daerah. Bahasa pengantar masyarakat provinsi Riau pada umumnya menggunakan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu umumnya digunakan di daerah-daerah pesisir seperti Rokan Hilir, Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Siak, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan di sekitar pulau-pulau. Bahasa Minang secara luas juga digunakan oleh penduduk di provinsi ini, terutama oleh para oleh penduduk asli di daerah Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu yang berbudaya serumpun Minang serta para pendatang asal Sumatera Barat.

Selain itu Bahasa Hokkien juga masih banyak digunakan di kalangan masyarakat Keturunan Tionghoa, terutama yang bermukim di daerah seperti Selatpanjang, Bengkalis, dan Bagan siapi-api. Dalam skala yang cukup besar juga didapati penutur Bahasa Jawa yang digunakan oleh keturunan para pendatang asal Jawa yang telah bermukim di Riau sejak masa penjajahan dahulu, serta oleh para transmigran dari Pulau Jawa pada masa setelah kemerdekaan. Di samping itu juga banyak penutur Bahasa Batak di kalangan pendatang dari Provinsi Sumatera Utara.


Flora Identitas Riau adalah Nibung (Oncosperma tigillarium syn. O. filamentosum), yaitu sejenis palma yang tumbuh di rawa-rawa Asia Tenggara, mulai dari Indocina hingga Kalimantan.

Tumbuhan ini berupa pohon dengan bentuk khas palma: batang tidak atau jarang bercabang, dapat mencapai 25m, dapat memunculkan anakan yang rapat, membentuk kumpulan hingga 50 batang. Batang dan daunnya terlindungi oleh duri keras panjang berwarna hitam. Daunnya tersusun majemuk menyirip tunggal (pinnatus) yang berkesan dekoratif.

Kayu nibung sangat tahan lapuk sehingga dipakai untuk penyangga rumah-rumah di tepi sungai di Sumatera dan Kalimantan. Temuan arkeologi di daerah Jambi menunjukkan sisa-sisa penyangga rumah dari kayu ini di atas tanah gambut dari perkampungan abad ke-11 hingga ke-13. Kayunya juga dipakai untuk jala ikan (di Kalimantan).


Fauna Identitas Riau adalah Serindit melayu atau dalam nama ilmiahnya Loriculus galgulus, yaitu sejenis burung yang terdapat di dalam genus burung serindit Loriculus. Burung ini berukuran kecil, dengan panjang mencapai 12cm. Bulunya didominasi oleh warna hijau dengan bulu ekor berwarna merah.

Burung jantan dan betina serupa. Burung serindit jantan memiliki bercak kepala berwarna biru dan bercak tenggorokan berwarna merah. Burung betina berwarna lebih kusam dibanding jantan. Populasi Serindit melayu tersebar di hutan dataran rendah, dari permukaan laut sampai ketinggian 1,300m di negara Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.

Serindit Melayu hidup dalam kelompok. Burung ini memiliki kebiasaan aktif memanjat dan berjalan daripada terbang. Saat istirahat, burung serindit menggantungkan badan ke bawah. Pakannya terdiri dari sayuran hijau, buah-buahan, padi-padian dan aneka serangga kecil. Burung betina biasanya menetaskan antara tiga sampai empat butir telur yang dierami sekitar 18 sampai 20 hari.

Spesies ini mempunyai daerah sebaran yang luas dan sering ditemukan di habitatnya. Serindit Melayu dievaluasikan sebagai beresiko rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.


Tarian Tradisional Riau

Tari Makan Sirih. Tari ini biasanya disebut dengan tari persembahan, yaitu tarian yang sering digunakan untuk menyambut tamu atau pembukaan acara-acara tertentu. Dengan adanya tari persembahan ini menunjukkan bahwa orang Melayu sangat menghargai hubungan persahabatan serta kekerabatan.

Dalam tarian Melayu seorang penari harus memahami setiap gerakan yang digerakkannya. Pada tari persembahan biasanya ditarikan oleh pasangan muda mudi, tapi setelah perkembangan zaman tarian ini mulai sering dilakukan oleh yang lebih tua. Sedangkan dalam busana yang digunakan adala busana adat Melayu lengkap, baik perempuan maupun laki-laki. Sedangkan unutuk urusan musik pengiring biasanya menggunakan lagu khas Melayu.

Dalam tarian ini ada banyak nilai nilai yang terkandung, yaitu: Nilai kasabaran, Hiburan, Pelestarian budaya, Seni, Olah raga, dan Kreativitas.

Keberadaan Tari Makan Sirih ini mencerminkan bagaimana orang Melayu sangat menghormati sekaligus menciptakan suasana hangat dan bersahabat bagi para tamu yang berkunjung. Kandungan ajaran budi pekerti Melayu ini mengisyaratkan pentingnya melestarikan budaya Tari Makan Sirih, agar budaya ini tidak termakan zaman dan nilai nilai positif yang terkandung juga tidak hilang.

Tari Zapin. Menurut sejarah, tarian Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan di kalangan raja-raja di istana setelah dibawa dari Yaman oleh para pedagang-pedagang di awal abad ke-16. Masyarakat Melayu termasuk seniman dan budayawannya memiliki daya kreasi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu, setelah itu baru tersebar di antara penduduk Melayu.

Bahasa gerak yang disampaikan lewat Tari Zapin dengan berbagai ragamnya seperti ragam tongkah, anak ayam patah dan geliat merupakan perumpamaan dan kiasan alam lingkungan di mana kehidupan tersebut berlangsung. Secara nyata makna gerakan ragam tongkah menggambarkan suasana sampan yang sedang dikayuh oleh seseorang menentang arus sungai. Hal ini menandakan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan harus dengan sikap gigih, patang menyerah dan punya perhitungan yang matang.

Sedangkan ragam anak ayam patah mengaplikasikan kehidupan yang tak kenal lelah dan menerima apa-apa yang telah terjadi sebagai memaknai sikap hidup yang mengedepan apa adanya sekaligus tidak menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada. Lain lagi akan halnya ragam geliat yang menirukan gerakan orang sedang menggeliat yang maknanya adalah mengandung hikmah kesehatan dan menyegarkan sekalian tubuh. Di sisi lain, semua ragam yang terdapat dalam Tari Zapin tersebut memberi pelajaran tentang bagaimana sikap serta tingkah laku orang Melayu yang seharusnya.

Dalam Tari Zapin juga terkandung makna adab sopan santuan, sikap hormat dan memuliakan orang lain seperti yang disampaikan melalui ragam alif sembah atau dikenal juga sebagai salam pembuka. Nilai maupun makna ragam alif sembah ini memberi pelajaran tentang tatacara bersopan santun, berbudi baik, bersikap rendah hati pada setiap orang yang berada dihadapannya. Bagitu juga akan halnya ragam tahto dalam Tari Zapin yang bermakna penutup atau penyudah dari sebuah persembahan yang disampaikan pada setiap orang yang melihatnya. Dalam hal ini nilai pembelajaran yang termuat adalah memberi salam akhir perjumpaaan atau hormat diri sekaligus kata-kata perpisahan.

Joget Lambak atau joget dangkung merupakan suatu tarian yang cukup populer bagi masyarakat melayu. Dalam perkembangannya ,joget lambak ini telah berkembang didaerah Bintan, Batam, Moro dan tersebar luas diseluruh masyarakat Kepulauan Riau.

Menurut sejarahnya, joget lambak memang sudah ada sejak dari zaman dahulu maupun sejak zaman kerajaan–kerajaan melayu Riau-Lingga. Joget Lambak ini juga merupakan rangkaian perjalanan dari kebudayaan melayu yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh waktu. Gerak tariannya yang sangat lemah gemulai dan berlenggang menjadi khas suatu tanda, bahwa tarian ini tetap ada disepanjang zaman.

Pada umumnya lagu-lagu yang ditarikan dalam Joget Lambak adalah lagu atau irama joget seperti Serampang Laut, Anak Kala, Tanjung Katung dan juga lagu Dondang Sayang. Alat musik yang digunakan juga sangat sederhana seperti Biola, Gong atau Tetawak dan Gendang, suatu alat musik yang menjadi lambang kesenian tradisional melayu.

Kesenian Boria dimainkan oleh kaum lelaki. Jumlah pemain sebanyak 20 orang ditambah 1 orang komandan yang disebut Kapten. Tugasnya adalah mengatur perbarisan dan menjadi ssentral cerita di dalamnya. Sementara anak buah dipimpin oleh seorang sarjen (sersan).

Gerakan dalam Boria cukup sederhana. Sumber gerak diambil dari gerak berbaris, hormat, keseharian, dan permainan anak-anak. Pola lantai berupa garis lurus dan lengkung. Busana terdiri dari Baju ala tentara Belanda, sepatu, kaos kaki, topi tarbus dan diberi pernak-pernik sehingga terkesan meriah. Boleh menggunakan kacamata. Musik cukup sederhana dengan menggunakan genderang snar drum dan akordian. Boleh juga ditanbah terompet dan peluit.


Kuliner Khas Riau

Roti jala & roti cane/canai adalah makanan yang masing-masing berasal dari Timur Tengah dan India yang telah di adopsi oleh Indonesia. Makanan ini sudah nenjadi "sangat Melayu" dan merupakan kuliner khas di Riau. Biasanya makanan ini disuguhkan bersama Kare.

Roti Jala berasal dari Timur tengah yang bentuknya menyerupai jala. Roti ini juga disajikan sebagai pendamping Kari atau Gulai. Sedangkan Roti Cane/Canai ini berasal dari India, hanya di India namanya Roti Chapati. Bentuk tekstur roti bisa beragam ada yang seperti proses diatas, atau ditipiskan lebar lalu dilipat-lipat seperti martabak, baru kemudian dipanggang.

Bolu Kemojo adalah panganan khas Melayu dari Riau. Bolu kemojo ini bukan seperti bolu yang sering kita dengar ya, mentang-mentang depannya bolu jadi pikirannya bolu yang sudah populer itu, memang hampir mirip tapi bolu kemojo memiliki tekstur yang berbeda karena ia disengaja dibuat tidak mengembang sehingga menjadi padat dan ketika memakannya akan terasa sangat legit. Makanan jajanan ini bisa mengenyangkan.

Bolu kemojo paling sering dijumpai ketika hajatan, bulan ramadhan dan ketika hari raya Idul Fitri. Maka tak heran di riau ketika bulan ramadhan tiba jajanan satu ini akan banyak dijajahkan oleh masyarakat disana.

Pada mulanya, bolu kemojo ini hanya memiliki satu rasa saja yaitu rasa pandan, tapi seiring waktu berjalan banyak yang melakukan eksperimen dengan membuat bolu kemojo berbagai rasa, seperti rasa durian, rasa nangka, rasa keju dan masih banyak rasa lagi. Walaupun banyak rasa menurut beberapa sumber yang diminati masyarakat adalah yang masih original. Oke, itu masalah selera, tergantung cita rasa masing-masing.

Kue Bangkit, atau kue Bangket, merupakan kue tradisional khas Melayu. Kue bangkit menjadi salah satu kue khas yang disajikan pada momen Hari Raya Idul Fitri. Bahkan orang Tionghoa di daerah-daerah tersebut juga menjadikan kue bangkit ini sebagai salah salah kue khas yang disajikan pada Hari Raya Imlek, sehingga di sini terjadi semacam silang budaya yang erat dan harmonis antara etnis Melayu dan Tionghoa.

Dinamakan kue bangkit karena ukuran dari kue ini setelah matang dan dikeluarkan dari oven bisa berukuran dua kali lipat dari ukuran adonan semula. Warna kue bangkit ini putih kekuningan dan kadang dipercantik dengan diberi noktah berwarna merah di atasnya. Tekstur kue bangkit sangat halus dan gampang remuk. Kue bangkit akan lumer di dalam mulut dan mempunyai rasa yang renyah ketika dikunyah. Rasanya yang manis menjadi daya tarik bagi anak-anak.

Kue Asidah, Kuliner Melayu Asli Arab. Kue asal Arab ini justru dikenal sebagai salah satu makanan khas Melayu yang hampir punah. Masyarakat Melayu menyebutnya Kue Asidah ada juga yang bilang Khasidah atau Qasidah, berbeda dengan kuliner Melayu yang biasanya gurih dan manis, kue yang satu ini memang teramat spesial bahkan punya perbedaan yang cukup mendasar, selain bentuknya yang bisa dibuat sesuka hati, cara manikmatinya juga cukup unik, pakai bawang goreng.

Dari segi rasa tentu saja juga cukup berbeda, jangan bandingkan dengan lempuk durian ataupun kue bangkit, atau bagi yang terbiasa makan roti Jala dan juga Canai. Kue yang konon kabarnya memang berasal dari negara Timur Tengah ini sudah sangat sulit ditemui dan sangat jarang diproduksi.

Dari bentuknya saja memang mengundang rasa penasaran, namun seperti halnya kue-kue khas Melayu, kue Asidah memiliki tekstur yang sangat lembut dan rasanya manis perpaduan rempah seperti cengkeh, kayu manis dan daun pandan. Dahulunya, kue ini dikenal sebagai kue tradisonal masyarakat Melayu, bahkan selalu ada pada saat perayaan acara-acara besar, terutama acara adat, selain itu pada acara resepsi pernikahan, kue-kue ini juga ada, namun saat ini memang sudah sangat sulit ditemukan.

Ikan Selais Asap adalah salah satu produk yang berasal dari Provinsi Riau. Produk ini adalah jenis makanan yang berasal dari bahan baku yaitu ikan Selais. Produk ini bisa dikatakan makanan khas dari Daerah Riau.

Cara pembuatan ikan asap selais ini sendiri merupakan hal yang cukup sederhana, yaitu ikan selais yang didapat dari sungai kemudian dijemur selama lebih kurang 1 hari. Setelah dijemur ikan tersebut diasap dengan menggunakan kulit kayu agar dapat memberikan aroma citarasa yang khusus, juga dilakukan pengasapan dengan menggunakan rambutan sebagai aroma khas.

Ikan dari riau ini sendiri yang mempunyai berat dalam keadaan segar yang mencapai 3 – 4 ons setelah dilakukan pengasapan mempunyai berat kurang dari 1 ons per ekornya, namun hal tersebut membuat ikan tersebut nikmat untuk dinikmati dan terasa gurih. Pengolahan ikan asli riau ini di daerah asalnya kebanyakan digoreng dengan cabe merah yang diberi sedikit air jeruk nipis, sehingga memberikan sensasi khas saat dinikmati.

Ikan asap selais ini mempunyai harga yang tidak tetap, yaitu seputaran Rp. 140.000 sampai Rp. 160.000 perkilonya. Bahan mentahnya yang adalah ikan Selais ini, hanya terdapat di daerah aliran sungai Rokan kabupaten Rokan Hilir, kecamatan Rantau Kopar, Desa Sungai Rangau salah satunya, selain di daerah Kabupaten Kampar atau aliran sungai Kampar di Provinsi Riau.

Gulai Ikan Patin. Keberadaan kota Pekanbaru yang diapit oleh 4 sungai Siak, Sungai Rokan, Sungai Kampar dan Sungai Indragiri memungkinkan Pekanbaru mendapatkan suplai ikan patin yang berlimpah. Dan salah satu masakan yang juga terkenal enak di Riau yaitu Gulai Ikan Patin. Kekhasan gulai ikan patin terletak pada kuahnya yang berwarna kuning dengan potongan-potongan ikan patin yang besar.

Gulai Asam Pedas Ikan Patin, juga merupakan satu menu yang diwajibkan dihidangkan dalam tiap acara keluarga di Provinsi Riau, tiada hari bisa dilewatkan tanpa gulai asam pedas ikan patin. Bahkan gulai asam pedas ikan patin merupakan hidangan kas Melayu dan sebuah prestise khususnya pada acara menanti menantu datang, 'manjalang mintuo' atau menjelang mertua, hingga perhelatan atau pesta kawinan, dan sunnatan.

Gulai asam pedas ikan patin sudah mentradisi dan terus menjadi menu wajib bagi tiap keluarga di Porvinsi Riau. Gulai asam pedas ikan patin, semacam hidangan wajib dan khas Melayu.

Lempuk Durian merupakan salah satu Jenis Makanan Khas dari Riau yang terbuat dari Durian. Lempuk ini berbentuk seperti dodol. Selain di Riau, lempuk juga dapat dijumpai di daerah lain di Sumatera. Siapa sih yang tidak kenal dengan lempuk durian, "Makanan Khas Riau" ini berasal dari Kab. Bengkalis, bahkan lempuk sudah menjadi ikon Bengkalis. Jika kita berkunjung ke Bengkalis kurang lengkapnya jikanya tidak membeli buah tangan Lempuk Durian.

Es Laksamana Mengamuk merupakan minuman dingin yang menggunakan buah kuini sebagai bahan utama. Konon, keberadaan minuman ini berawal dari mengamuknya seorang laksamana di kebun kuini. Laksamana tersebut mengamuk lantaran istrinya dibawa lari oleh pemilik kebun kuini tersebut. Sang laksamana menebas-nebaskan pedangnya ke seluruh penjuru, hingga puluhan buah kuini hancur karena kemarahannya ini.

Usai sang laksamana menuntaskan kemarahannya dan pulang, orang-orang di sekitar kebun kuini mengambil puluhan buah kuini yang sudah tercincang dan terhampar di rumput. Pada awalnya, orang-orang tersebut bingung, akan diapakan buah kuini yang telah terpotong-potong tersebut. Hingga salah seorang wantia, mencampurkan potongan-potongan buah kuini itu dengan air santan dan gula merah. Jadilah minuman segar, yang pada waktu itu, langsung dinikmati oleh orang sekampung.

Es air mata pengantin adalah salah satu minuman asli Indonesia yang berasal dari daerah Riau. Minuman ini memiliki nama yang sangat unik. Walaupun nama minuman ini aneh akan tetapi rasa dari minuman yang satu ini sangat segar dan enak. Sekarang ini banyak orang yang mencoba mencari resep es air mata pengantin karena penasaran dengan rasa minuman ini.

Resep es air mata pengantin sebenarnya memiliki komposisi bahan yang mudah anda dapatkan. Apabila anda akan membuat es air mata pengantin ini maka anda harus memastikan bahwa bahan-bahan yang anda gunakan masih segar agar kesegaran dari minuman ini dapat anda rasakan. Anda lebih baik untuk meminum minuman ini pada siang hari karena akan membuat tenggorokan anda semakin segar.


Obyek Wisata Riau

Istana Siak. Kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan Melayu Islam yang terbesar di Daerah Riau, yang terdapat di Kabupaten Siak Srindrapura, dengan Jarak tempuh sekitar 2-3 jam dari Kota Pekanbaru. Kerajaan Siak mencapai masa jayanya pada abad ke 16 sampai abad ke 20. Dalam silsilah Sultan-sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725, dan dengan 12 sultan yang pernah bertahta.

Kini, sebagai bukti sejarah atas kebesaran kerajaan Melayu Islam di Daerah Riau, dapat kita lihat peninggalan kerajaan berupa kompleks Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama ASSIRAYATUL HASYIMIAH lengkap dengan peralatan kerajaan. Sekarang Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kerajaan.

Makam Koto Tinggi. Komplek Makam Koto Tinggi Terletak di sebelah timur Istana Siak. Makam Bersejarah yang ada didalam kompleks ini, meliputi; makam Sultan Syarif Hasyim dan ayahandanya, beserta keluarga dan kerabat kerajaan lainnya.

Kompleks makam ini berukuran 15 x 15 meter persegi. Nisan dari makam yang terdapat di komplek makam ini semuanya berukiran sangat rumit dan indah terbuat dari kayu dan marmer.

Taman Alam Mayang Pekanbaru. Objek Wisata Taman Alam Mayang adalah salah satu objek wisata Favorit bagi Warga di Kota Pekanbaru. Taman ini memiliki Kolam Pancing yang luas, Taman Alam Mayang ini ramai dikunjungi pada hari libur, seperti hari Ahad, Idul Fitri, tahun baru, Natal dan hari-hari libur lainnya.

Kolam Pancing Alam Mayang ini memang disiapkan sebagai salah satu tujuan wisata andalan Pekanbaru, Taman Pancing Alam Mayang berlokasi di Pinggiran Kota Pekanbaru tepatnya di Jl. Harapan Raya/Imam Munandar Pekanbaru (menuju Jalan Lintas ke Kabupaten Pelalawan). Selain menjadi tempat wisata bagi keluarga, Alam mayang juga menyuguhan suasana alamnya, hampir di setiap lokasi alam mayang tersebut dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang yang kondisinya bersih dan sangat terawat dengan baik.

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang ada di Riau ini memiliki ekosistem yang unik dan berbeda jika dibandingkan dengan taman nasional lainnya yang ada di Indonesia. Kawasan ini merupakan peralihan antara hutan rawa dan hutan pegunungan, dan juga merupakan hamparan yang terpisah dari rangkaian pegunungan.

Jika berkunjung di bukit ini maka para wisatawan yang berkunjung bisa menikmati pemandangan alam dan isinya termasuk jenis binatang yang beragam seperti beruang madu, kancil, siamang, harimau Sumatra, tapir, dan jenis satwa lainnya. Jenis flora dan fauna langka yang terdapat di bukit ini merupakan kehidupan yang di lindungi oleh pemerintah.

Air Terjun Aek Martua. Pemandangan yang sangat luar biasa yang dihasilkan oleh air terjun ini memang sangat mengagumkan sampai-sampai air terjun Aek Martua ini dijuluki dengan air terjun tangga seribu, karena air terjun tersebut memiliki banyak tingkatan air yang mengalir di bebatuan. Obyek wisata ini terletak di Kabupaten Rokan Hulu, Pekanbaru, Riau.

Wisata Bahari Danau Pulau Besar. Danau Pulau Besar yang berada di Desa Zamrud, Kecamatan Siak Sri Indrapura, Riau ini juga memiliki panorama yang juga menarik dan sangat indah. Di sekitar danau ini masih ditemukan hutan yang asli dan merupakan danau dan hutan yang berstatus Suaka Marga Satwa dimana masih terdapat jenis satwa dan tumbuhan langka yang masih dilindungi pemerintah seperti salah satunya ikan arwana dan ikan balido

Pulau Jemur ini juga merupakan obyek wisata yang sangat indah dan menawan. Pulau Jemur yang terletak kurang lebih 45 mil dari ibukota kabupaten Rokan Hilir dan juga 45 mil dari negara tetangga Malaysia ini terdapat pulau-pulau berbentuk lingkaran sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang.

Pulau jemur ini sangat kaya akan hasil lautnya, selain memiliki panorama dan pemandangan yang sangat indah juga terdapat beberapa potensi wisata lainnya yaitu Batu Panglima Layar, taman laut, dan pantai berpasir kuning emas, Goa Jepang, Mercusuar, dan sisa-sisa pertahanan Jepang pada jaman dulu.

Pantai Pasir Panjang. Sesuai dengan namanya, pantai ini memiliki pantai dengan pasir putih bersih yang sangat panjang. Pantai di Pulau Rupat lebih tepatnya di Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau ini sangat cocok untuk berwisata berjemur, olahraga air, rekreasi bersama keluarga, bersantai dan berenang menikmati keindahan pantai dan air laut yang ombaknya sedang.

Objek Wisata Bono River adalah surga baru bagi peselancar. Bono merupakan fenomena alam yang menakjubkan yang terjadi di hilir Sungai kampar atau lebih dikenal dengan sebutan Semenanjung Kampar, tepatnya di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.

Bono adalah fenomena alam yang datang sebelum pasang. Air laut mengalir masuk dan bertemu dengan air sungai Kampar sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari.

Objek wisata Bono River berada di teluk meranti, Teluk Meranti merupakan sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau. Secara geografis lokasi teluk meranti berada di bantar sungai kampar tepat di hilir/muara sungai kampar.

Mengetahui dahsyatnya gelombang bono di sungai kampar ini, mengundang para peselancar untuk bisa berselancar diatas gelombang bono ini. Dan hanya ada satu-satunya di Indonesia daerah atau kawasan yang bisa berselancar di gelombang atau ombak sungai hanya ada di Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan Riau. Para peselancar menjuluki bono river sebagai “SEVEN GHOST” in Sumatera Island.

Bagi anda yang ingin berkunjung dan melihat atau malah berselancar dengan gelombang bono ini dapat menempuh dengan pesawat atau mobil, kalo naik pesawat anda harus menuju pekanbaru (Bandara Sutan Syarif Qasim II), lalu dengan menggunakan mobil sewaan atau punya family dan teman bisa diminta untuk dihantarkan ke Desa Teluk Meranti.

Perjalanan pekanbaru – Teluk Meranti berkisar 5-6 jam perjalanan dan akan melalui Pangkalan Kerinci (ibukota Pelalawan). Setelah itu sampai lah anda ke jalan lintas bono untuk menuju Teluk Meranti.

Mudah-mudahan Objek Wisata Bono River dapat menjadi wisata andalan di Indonesia, khususnya provinsi Riau. Selamat berkunjung kesana dan nikmati keindahannya.


Lain-lain

Bandar Udara :
JAPURA, RGT/WIPR, Domestik, Kec.Lirik, Indragiri Hulu, Riau.
PASIR PANGARAIAN, PPR/WIDE, Domestik, Kec.Rambah Samo, Rokan Hulu, Riau.
SULTAN SYARIF KASIM II, PKU/WIBB, Internasional, Kec. Pekanbaru Kota, Pekanbaru, Riau.
TEMPULING, Domestik, Kab.Indragiri Hilir, Riau.

Nomor Polisi Kendaraan Bermotor :
BM : Riau
BM - R* : Kota Dumai
BM - A* : Kota Pekanbaru

Kode area Telpon :
0760 : Teluk Kuantan (Kab. Kuantan Singingi)
0761 : Kota Pekanbaru; Pangkalan Kerinci (Kab.Pelalawan); Minas; Tualang (Kab.Siak)
0762 : Bangkinang (Kabupaten Kampar); Pasir Pengaraian (Kabupaten Rokan Hulu)
0763 : Selatpanjang (Kabupaten Kepulauan Meranti)
0764 : Siak Sri Indrapura (Kabupaten Siak)
0765 : Kota Dumai; Duri (Kab.Bengkalis); Bagan Batu (Kab.Rokan Hilir); Ujung Tanjung (Kab.Rokan Hilir)
0766 : Bengkalis (Kabupaten Bengkalis)
0767 : Bagansiapiapi (Kabupaten Rokan Hilir)
0768 : Tembilahan (Kabupaten Indragiri Hilir)
0769 : Rengat; Air Molek (Kabupaten Indragiri Hulu)
0624 : Panipahan (Kabupaten Rokan Hilir)


SEJARAH KEBUDAYAAN MELAYU RIAU

     Sejarah dan Budaya Asli Pekanbaru – Kota Pekanbaru, siapa yang tak kenal dengan Pekanbaru saat ini? Pekanbaru merupakan ibukota Provinsi Riau yang oleh masyarakat Indonesia dikenal dengan hasil buminya yang melimpah dan daerah yang kental akan tradisi nilai-nilai kemelayuannya. Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai dan maju inipun menyimpan sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Ada dua versi mengenai asal-mula kota ini yaitu versi sejarah dan versi cerita rakyat.










 
 Menurut versi sejarah, pada masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang Batin (kepala dusun). Dalam perkembangannya, Dusun Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki, yang terletak di tepi Muara Sungai Siak. Perkembangan Dusun Senapelan ini erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, raja Siak Sri Indrapura yang keempat, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, bergelar Tengku Alam (1766-1780 M.), menetap di Senapelan, yang kemudian membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan Dusun Senapelan (di sekitar Mesjid Raya Pekanbaru sekarang). Tidak berapa lama menetap di sana, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian membangun sebuah pekan (pasar) di Senapelan, tetapi pekan itu tidak berkembang. Usaha yang telah dirintisnya tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu di sekitar pelabuhan sekarang.
Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M., berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu. Sejak saat itu, setiap tanggal 23 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru. Mulai saat itu pula, sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan Baharu. Sejalan dengan perkembangannya, kini Pekan Baharu lebih populer disebut dengan sebutan Kota Pekanbaru, dan oleh pemerintah daerah ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Riau.
Jauh sebelum Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah, putra Sultan Abdul Djalil Rahmat Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari Sungai Mempura ke Senapelan pada 1763 Masehi, Petapahan dan Teratak Buluh juga menjadi pusat perdagangan yang cukup ramai pada saat itu. Kedua daerah ini tempat berkumpulnya para pedagang dari pedalaman Sumatera membawa hasil pertanian, hasil hutan, dan hasil tambang.
Oleh para pedagang, hasil pertanian, hasil hutan dan hasil tambang tersebut mereka bawa ke Singapura dan Malaka mengunakan perahu. Untuk jalur perdagangan Sungai Kampar, pusat perdagangannya terletak di Teratak Buluh. Sedangkan pusat perdagangan jalur Sungai Siak terletak di Petapahan. Perdagangan jalur Sungai Kampar kondisinya kurang aman, perahu pedagang sering hancur dan karam dihantam gelombang (Bono) di Kuala Kampar dan sering juga terjadi perampokan yang dilakukan oleh para lanun. Sedangkan Sungai Siak termasuk jalur perdagangan yang cukup aman.
Senapelan ketika itu hanya sebuah dusun kecil yang letaknya di kuala Sungai Pelan, hanya dihuni oleh dua atau tiga buah rumah saja (sekarang tepatnya di bawah Jembatan Siak I). Pada saat itu di sepanjang Sungai Siak, mulai dari Kuala Tapung sampai ke Kuala Sungai Siak (Sungai Apit) sudah ada kehidupan, hanya pada saat itu rumah-rumah penduduk jaraknya sangat berjauhan dari satu rumah ke rumah lainnya. Ketika itu belum ada tradisi dan kebudayaan, yang ada hanya bahasa, sebagai alat komunikasi bagi orang-orang yang tinggal di pinggir Sungai Siak.
Balai+kerapatan+adat+SenapelanBahasa sehari-hari yang mereka pakai adalah bahasa Siak, bahasa Gasib, bahasa Perawang dan bahasa Tapung, karena orang-orang inilah yang lalu-lalang melintasi Sungai Siak. Pada saat itu pengaruh bahasa Minang, bahasa Pangkalan Kota Baru dan bahasa Kampar belum masuk ke dalam bahasa orang-orang yang hidup di sepanjang Sungai Siak.
Setelah Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari Sungai Mempura ke Senapelan, pembesar-pembesar kerajaan serta orang-orang dalam kerajaan serta keluarganya ikut pindah ke Senapelan. Dan pada saat itulah tradisi serta budaya, bahasa sehari-hari terbawa pindah ke Senapelan.
TMIIDi Senapelan, sultan membangun istana (istana tersebut tidak terlihat lagi karena terbuat dari kayu). Sultan juga membangun masjid, masjid tersebut berukuran kecil, terbuat dari kayu, makanya masjid tersebut tidak bisa kita lihat lagi sekarang ini. Dari dasar masjid inilah menjadi cikal bakal Masjid Raya Pekanbaru di Pasar Bawah sekarang ini.
Sultan juga membangun jalan raya tembus dari Senapelan ke Teratak Buluh. Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah membangun pasar, yang aktivitasnya hanya sepekan sekali. Belum sempat Senapelan berkembang, Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah wafat pada 1765 masehi dan dimakamkan di samping Masjid Raya Pekanbaru, sekarang dengan gelar Marhum Bukit.
2897_76813532079_674262079_1643515_7696646_nPasar pekan dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali yang dibantu oleh ponakannya Said Ali (Anak Said Usman). Di masa Raja Muda Muhammad Ali inilah Senapelan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pasar yang dibangun yang pelaksanaannya hanya sekali sepekan melahirkan kata Pekanbaru. Pekan (berarti pasar sekali sepekan). Baru (baru dibangun saat itu). Saat itulah nama Senapelan lama kelamaan semakin menghilang, orang lebih banyak menyebut Pekanbaru.
Setelah Pekanbaru menjadi ramai maka muncullah para pendatang dari pelosok negeri mulai dari Minang Kabau, Pangkalan Kota baru, Kampar, Taluk Kuantan, Pasir Pengaraian, dan lain-lain. Awalnya mereka berdagang, lama kelamaan mereka menetap. Dengan menetapnya para pedagang tersebut di Pekanbaru lalu mereka melahirkan generasi (anak, cucu, cicit). Anak, cucu, dan cicit tersebut menjadi orang Pekanbaru. Masing-masing pedagang yang datang dan menetap di Pekanbaru membawa bahasa serta tradisi dari asal daerah mereka masing-masing. Lalu mereka wariskan kepada anak cucu dan cicit mereka. Dari situlah mulai kaburnya bahasa, tradisi asli Pekanbaru yang berasal dari Kerajaan Siak.
Kalau ingin tahu lebih jelas lagi mengenai sejarah, bahasa serta tradisi asli Pekanbaru, tanyakan kepada orang-orang Pekanbaru yang nenek moyang mereka berasal dari Siak, atau nenek moyang mereka orang-orang yang hidup di dalam lingkungan Kerajaan Siak. Mustahil para pedagang yang datang dan menetap di Pekanbaru menceritakan kepada anak cucu mereka tentang sejarah dan tradisi Pekanbaru.
Yang pasti mereka tanamkan ke dalam pikiran anak cucu mereka bagaimana cara berdagang yang baik dan sukses. Dalam hal ini peran Lembaga Adat Kota Pekanbaru sangat penting sekali, untuk meluruskan dan menjelaskan sejarah dan tradisi asli Pekanbaru. Maka dari itu pengurus Lembaga Adat Kota Pekanbaru mau tak mau harus tahu sejarah serta adat istiadat asli Pekanbaru. Karena Lembaga Adat tempat orang minta petunjuk, minta pendapat dan minta petuah.

Senin, 02 Maret 2015


SEJARAH PACU JALUR KOTA TELUK KUANTAN

PENGERTIAN PACU JALUR
 Pacu jalur merupakan tradisi masyarakat kabupaten kuantan singing yang sudah berlangsung secara turun temurun sejak zaman dahulu.Sejak kapan penduduk rantau kuantan yang tinggal di sepanjang batang kuantan mengenal jalur dan pembuatan nya,tidak dapat ditunjukkan tahun yang pasti.Tapi di perkirakan pacu jalur sudah dikenal penduduk di rantau kuantan ini semenjak tahun 1900.
 Pada mulanya yang dipacukan penduduk kebanyakan perahu-perahu besar yang biasa di pakai untuk mengangkut hasil bumi misalnya tebu,pisang dan lain sebagainya.Perahu-perahu besar ini di pacukan penduduk untuk merayakan berbagai hari besar islam,maulid Nabi Muhammad SAW,hari raya Idul Fitri dan tanggal 1 muharam dan lainnya.
 Semenjak kedatangan Belanda di kota Taluk Kuantan ± tahun 1905,Belanda tetap melanjutkan kegiatan pacu jalur,dan menukar tujuan dan tanggal pelaksanaannya yaitu pada tanggal 31 Agustus dalam rangka memperingati  ulang tahun ratu Wihelmina.
 Hingga tahun 1950 jalur dengar pacu jalur nya belum kembali ke dalam kehidupan budaya masyarakat kuantan singingi,dan pada tahun 1951 dan 1952 sesudah zaman Jepang dan agresi Belanda,jalur kembali ke kehidupan masyarakat kuantan singingi,dimana waktu pelaksanaan dan tujuan melaksanakan dilakukan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.Teluk kuantan dan Baserah yaitu dua kecamatan yang selalu mengadakan pacu jalur setiap ulang tahun kemerdekaan.
 Sayang nya, akhir-akhir ini banyak kesenian dan budaya tradisional , permainan rakyat , budaya local sudah hamper punah .  Hal tersebut pelu usaha-usaha untuk pelestarian pelestarian kesenian daerah agar tidak hilang di makan masa. Hal yang menghawatirkan lagi adalah kesenian , budaya atau tradisi local tertentu ada yang menklaim sebagai tradisi atau kesenian daerah mereka. Oleh sebab itu perlu kajian revitalisasi pacu jalur sehingga seluruh proses, aktivitas dan kesenian kesenian yang melekat dengan kegiatan pacu jalur tersebut terdokumen dan merupakan hak cipta atau milik (tradisi) masyarakat kuantan singingi. (pemerintah kabupaten kuantan singingi,2011;1-2)

SEJARAH PACU JALUR
 Jalur adalah “perahu besar”  terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu).Panjang jalur antara 16 m s/d 25 m dan lebar bagian tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m.
  Menurut catatan sejarah jalur mulai ada di rantau kuantan sejak abad ke 18.Pada mulanya  jalur yang dipakai sebagai menyambut tamu-tamu terhormat seperti  raja,sultan yang berkunjung ke rantau kuantan.Sejak tahun 1905 jalur tersebut di lombakan (dipacukan) dan mulai saat itu,dikenal dengan nama PACU JALUR.Artinya jalur yang dipacukan (dilombakan) atau lomba jalur.
  Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat,kenduri rakyat  dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus  kegiatan pacu jalur pada zaman belanda di mulai pada tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september.Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan selama 2/3 hari,tergantung pada jumlah jalur seperti yang diungkapkan pak Saam (umur 85 tahun) yaitu pada zaman belanda jumlah jalur belum banyak sampai sekarang seperti pada saat sekarang yang jumlah nya sampai ratusan buah.pada masa itu jumlah jalur hanya berkisar antara 22 sampai 30 buah jalur. Dia menambahkan kegiatan terjadi pacu jalur tersebut anak sekolah yang berasal dari desa-desa sekitar di teluk kuantan melakukan suatu upacara  dengan menyanyikan wihelmus sebagai lagu kebangsaan belanda pada saat itu (wawancara  tanggal 11 september 2011).
  Setelah kemerdekaan kegiatan pacu jalur dilakukan 1 kali dalam 1 tahun,dalam rangka memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.Dalam rangka memperingati HUT RI ke 60 di kabupaten kuantan singingi. Kegiatan pacu jalur mengambil tema “peringatan 100 tahun budaya pacu jalur bersempena dengan HUT RI ke 60.
  Kegiatan pacu jalur dilakukan selama tiga sampai empat hari yang biasa nya dimulai pada tanggal 4 agustus. Namun demikian, jika acara HUT RI bertepatan pada bulan ramadhan maka acara pacu jalur tersebut dimajukan pada awal agustus atau bulan juli.
   Selama ini pacu jalur sudah di jadikan event kalender wisata nasional dan di geser hari nya mundur yaitu di mulai pada tanggal 23-26 agustus setiap tahun, kecuali memang pada tahun 2011 ini HUT RI pacu jalur nya di majukan lebih awal karena pertimbangan tertentu seperti bertepatan dengan bulan puasa (bulan ramadhan ) sehingga tidak mengganggu umat selain menunaikan kewajiman nya. (PEMERINTAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI,2011;10-11)


PERATURAN PACU JALUR

1.PANCANG
  Pancang adalah pembatas alur jalan antara satu jalur dengan jalun lain nya. Pancang tersebut terbuat dari batang pisang tersebut digabungkan dengan kayu yang dicecakan sehingga ia menjadi bergandeng di beri tali dan batu pemberat sehingga ia timbul di atas air dan ia tidak hanyut oleh arus ia berbentuk lancip agak kedepan agar jangan menghambat arus air. Sekarang pancang ini mengalami perkembangan tidak lagi terbuat dari batang pisang tetapi dari dahan atau pelepah rambio dan di atas nya di tancapkan bendera merah putih. Pancang ini berjumlah 6 buah arena pacu lebih kurang 1 km sama jaraknya. Jika air kuantan dalam keadaan pasang atau bisa juga pancang tadi hanyut sehingga disebut dengan pancang hanyuik (pancang hanyut).
  Pancang juga di gunakan sebagai hakim garis jika ada salah satu dari jalur lawan nya mengambil jalan melewati pancang ke sebelah nya maka jalur yang salh jalan didiskualifikasi. Jika jalan galur menyisip panjang itu di bolehkan atau jangan pancang tersebut atau di langgar . jika di tabrak atau di anggap gagal.

2.BODIAL
  Bodial sebagai tanda jika ia berbunyi tanda pacu sudah sah dari pancang star. Bedil ini dibunyikan jika haluan-haluan jalur  akan bertarung haluan nya sudah sama dan bendera sudah turun berkibar . jika ada kedua jalur ingin sementara haluan nya belum sama maka partuo jalur bergantung di kayu bendera sehingga bendera tersebut jadi turun maka bodial meletus sebgai tanda sah. Tapi kalau hanya bendera saja yang turun tapi bedil tidak meletus kedua jalur tetap juga pacu maka di pancang finish tetap oleh hakim tidak diputuskan dan harus di ulang kembali hilir mereka . jika tidak juga sama haluan nya sama untuk dilepas maka pada kali yang ke 3 tersebut tetap saja tidak sama haluannya (tidak sejajar) maka kedua jalur tetap dilepas (distart)
  Bila bedil sudah berbunyi ini juga sebagai pedoman oleh hakim dipanjang finish bahwa ia segera melihat jalur yang bertarung tersebut yang mana yang menang .

3.BENDERA START
   Bendera start berwarna merah putih ukuran jumbo (besar) ia digunakan untuk memanggil giliran pacu yang keberapanya , dengan mengibas-ngibaskan bendera. Di sisi kanan dan kiri bendera atau orang yang memegang bendera berdirilah perwakilan kedua partuo jalur yang akan bertarung. Bendera akan dikibas kan kebawah jika masing-masing partuo jalur tadi setuju dan bedil pun meletus sebagai tanda syahnya pacu.

4.POSKO START
  Posko start di isi oleh partuo jalur dari jumlah sama yang akan bertarung dengan masing-masing megang kertas atau cabutan undian sehingga jelas bagi mereka apa nama lawan jalur mereka dari desa mana , kecamatan mana dan jalan sebelah mana yang akan dilalui. Posko start ini bagaimana poskambling yang tidak berdinding tapi beratap .

5.POSKO HAKIM (PANCANG AKHIR)
   Posko hakim (pancang akhir) pada poskoh pancang akhir adalah tempat pimpinan kabupaten yaitu bupati dengan jajaran nya dan kades dengan yang paling rendah mewakili desa nya masing-masing serta undangan seperti mentri, gubernur dengan jajaran pejebat provinsi.
  Hakimnya adalah dari pengadilan atau kejaksaan untuk memudahkan dalam memutuskan sehingga lebih dulu pancang finish maka ia yang menang untuk menghindari tuntutan dari partu jalur maka sekarang ini sudah memakai teropong untuk lebih memastikan jalur jalan  sebelah mana yang menang maka setelah sampai di pancang finish semua pendayung naikkan dayung nya sebagai bertanda sudah sampai . kemudian tukang pinggang (juru kemudi) mengarah kan jalur nya merapat kedepan dewan hakim , maka dewan hakim mengucapka seperti : kata-kata seperti ini :  hilir yang pertama antara jalur keramat jubah merah sebelah kanan dari desa muaro sentajo dengan jalur merak jingga dari desa sawah maka sorak sorai pun beruntung saling bersautan maka yang menang tadi akan segera kembali kepunduang jalur jika ternyata podo (sama tidak ada yang menag) maka di nyatakan ulang . jika di ulang urutan nya adalah tentu adalah hilir yang paling terakhir dari urutan-urutan hilir pacu yang sudah dibuat. (PEMERINTAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, 2011;51-53)

TUJUAN PACU JALUR
    Secara pesalogis , tradisi pacu jalu memiliki nilai-nilai bimbingan. Suryaneti (2009) menemukann nilai-nilai bimbingan yang terkandung dalam trasidi pacu jalur adalah :
A.      Adanya saling menghargai antara anggota masyarakat
B.      Wadah untuk belajar mengespreikan pendapat
C.      Menumbuh kan kerja sama
D.      Menghilangkan rasa egois
E.       Menanam kan sifat mufakat (bulat air karena , bulat kata karena mufakat)
F.       Memupuk rasa sabar dan lapng dd menerima keputusan (lomak dek awak lomak pulo sek urang , ketuju dek awak ketuju pulo dek urang)
G.     Adanya rasa kebersamaan (pekerjaan berat menjasi ringan karena sipikul bersama) (PEMERINTAH  KABUPATEN KUANTAN SINGINGI,2011;6)

PROSES PEMBUATAN JALUR
A.      Rapat panitia pembuatan jalur
Jalur tidak dapat di buat begitu saja tanpa melalui berbagai proses baik yang menyangkut masalah tenaga ,biaya maupun yang menyangkutmasalah teknis lainnya seperti  : tukang jalur,partuo jalur atau panitia jalur serta lainnya. Sebelum jalur sibuat ,terlebih dahulu dibentuk panitia atau pengurus yang tugas nya mengurus segala sesuatu yang diperlukan dan diperdiap kan dalam proses pembuatan jalur . pengurus itu disebut denganpertuo jalur  yang diartikan orang yang ditugaskan salam proses sebagai ketua panitia pembuatan jalur. Atau dengan makna lain adalah orang yang dituakan , yang didahulukan selangkah , dan yang ditinggikan seranting  dalam urusan jalur di masyarakat. Pada umumnya pengurus pembuatan jalur disebut panitia jalur , tetapi dibeberapa desa seperti desa siberakun lebih akrab menyebut panitia dengan partuo jalur . (wawancara dwngan pak rusli , umur 60 tahun)
         Untuk rapat panitia pembuatan jalur dimulai dari adanya canang banjar yang dipukul  oleh orang yang sudah ditunjuk oleh kepala desa(kades) yang disebut dengan tukang canang . dirantau kuantan orang yang ahli dalam suatu bidang disebu dengan istilah tukang .  dehingga kalau ahli dalam bercanang disebut dengan tukang canang . orang yang ahli dalam membuat rumah disebut dengan tukang rumah dan orang yang ahli dalam membuat jalur disebut dengan tukang jalur. ( lihat lebih jauh yusrianto : 2000).
        Canang adalah alat bunyi-bunyian berupa celempong tunggal yang di pukul oleh tukang canang pada malam hari tatkala menyampaikan beberapa pengumuman di desa.  Tukang canang perannya adalah memberitahukan dan mengumumkan tentang rapat untuk pembuatan jalur. Tukang canang berkeliling kampong sambil memukul canang yang jarak nya sekitar sepuluh rumah begitu seterusnya sampai batas dari  kampong tersebut dan singgah deisetiap ada kedai kopi . orang-orang yang berada dikedai kopi tadi akan bertanya tentang apa isi canang tadi atau pengumuman tadi . biasanya dijawab oleh tukang canang dengan jawaban  bahwa besok kita akan mengadakan rapat jalur dib alai desa selepas maghrib dan tidak ada membawa apa-apa . kata-kata yang diucapkan tukang canang tersebut antara lain :
        “oh urang banjar iko , la tibo pulo parentah dalam banjar . banso bisuak malam , ptang omi malam jumat , kito/awak basamo-samo hadiar dalam balai desa untuak rapek mambuek jaluar baru kito . acaranyo lopemagorit sebelum isya. Aa ndak aso yang kan dibaok ro !! lai obe ru!!
      Artinya : “ hai orang yang ada dalam negri ini , sudah dating perintah di negri ini. Bahwa besok malam yaitu petang kamis malam jumat kita bersama-sama dengan orang tua , kepala keluarga, anak muda dapat bersama –sama hadir dib alai desa untuk rapat mmbuat jalur baru kita . acaranya dimulai selepas maghrib  sebelum isya ,nah tidak ada yang akan dibawa,nah , sudah tau kan .” (wawancara sengan gelar mawardi dengan gelr itam , sabtu malam , 10 september 2011 di pondokan kedai  pulu bungin siberakun)
      Ada juga dalam versi yang sudah agak lebih modern yaitu sudah memakai surat undangan yang di edarkan oleh pak RT masing-masing. Dalam hal ini trjadi pergeseran karena kesibukan masing-masing dan menghemat waktu karena tukang canang terlalu capek/lelah bekerja dikebunnya siang itu. Agar beita lebihefektif dan efisien untuk penyampaiannya dibuar dalam bentuk undangan . media canang sebagai penyampaian pesan mempunyai nilai kearifn local karena menghemat pemakaian kertas . dengan adanya canang sebenar nya sudah menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar karena dengan adanya surat undangan akan menyebabkan banyak sampah yang berserakan dan pada akhirnya dapat meruak lingkungan .
      Dalam malam rapat tersebut disusunlah kepanitiaan nya berdasarkan hasil kesepakatan pada malam yang bersangkutan dengan adanya partuo jalur yang terpilih tasi dibantu oleh kirani (sekretaris)dan juga seksi-seksi lainnya yang membantu seperti humas , pengarahan massa dan seksi dana . dalam rapat ini juga dibicarakan tentang kemungkinan apa jenis kayu yang akan digunakan daan di jadikan untuk pembuatan jalur dan siapa yang akan menjadi dukun jalur yang cocok dan sesuai untuk itu. Bahkan dalam rapat itu juga sudah ada kesepaktn  berapa besar nya setiap kepala keluarga (KK)  memberikan sumbangan . untuk daerah kuantan mudikmisalnya ditetapkan  Rp.100.000 per (KK) .Hal ini berbeda dengan daerah siberakun yang pada umumnya hasil rapat jalur itu secara suka rela sesuai dengan kemampuan masing-masing dari warganya. Tetapi besarab sumbangan terendah sudah ditetap kan Rp.50.000 . bagi PNS dan pedagang tentu diprediksi akan menyumbang lebih besar jika dibandingkan dengan yang berprofesi sebagai penyadap karet . ( wawancara dengan duski mansyur Spd anggot DPR kab. Kuansing, ahd , 11 september 2011 di rumahnya di siberakun).
     Badi peserta rapat sudah mempersiapkan dana-dananya akan langsung secara spontan untuk menyebutkan sumbanhan nya sebagai upaya untuk memotivasi dari yang lainnya secara fastabiqul khairat .. bahkan ada yang menyumbang yang tidak mau untuk disebutkan namanya hanya dengan nama dari hamba allah sekian puluh ribu rupiah dan setrusnya sesuai dengan besaran jumlah nominal sumbangan nya .

b. MENCARI KAYU JALUR



Setelah partu terbentuk , maka dicarilah kayu jalur sesuai dengan kesepakatan hari untuk mulai mencarinya dari hasil rapat panitia jalur dengan janji dimana kita menunggu satu sama lainnya, persiapan apa saja yang diperlukan menyankut perkakas yang akan dibawa seperti : kampak , beliung , parang san pakaian kehutan serta makan , minuman san kue yang akan dibawa serta juga ditentukan siapa penunjuk jalan dan mlalui arah kekebun siapa rute perjalanan yang akan dilewati.
      Jenis kayu yang dipilih biasanya jenis kayu kuat dan dapat tahan air bukan dari kayu lampung atau mayiang serta tidak midah pecah kalau dibuat menjado jalur. Diantara jenis kayu yang dipilih yang di anggap baik antara lain adalah kayu tonam , kayu kure, kayu kuyuak , kayu banio, dan kayu marantia sogar serta kayu lainnya yang kuat. Dalam mencari kayu jalur ini ada aturan-aturan yang secara konvensi harus dilaksanak dan dilalui yaitu bila ketemu dengan kayu yang sedang dilihat tersebut maka kita harus terlebi dahulu mengelilinginya sengan cara merintis sengan membuat lingkaran atau persegi empat dan melakukan proses yang disebut menandai dengan tanda yaitu dalam bentuk meletakkan kait untuk merintis tadi di jalan masuk pertama ketika proses mengelilingi kayu dimulai. Kemudian kayu itu diberi tanda dengan tulisan yang terbuat dari cat merah atau arang kayu keras . tulisan itu adalah bertuliskan nama jalur atau nama desa mereka. Setelah ditulis seperti itu , adanya tanda yang dibuat itu tulisan nya bukan dalam bentuk mendatar mengelilingi kayu sesuai radiusnya  tetapi adalah dari atas tengah kayu kebawah sehinggaq untuk menuliskan  agak terlalu tinggi dan besar maka dibantulah dengan tuki . tuki adalah sejenis alat dalam bentuk tangga-tangga yang dapat digunakan sebagai  tangga yang terbuat dari kayu yang di sorongkan kecupang kayu lain dan ada yang diikat kan dengan akar .maka kewajiban selanjutnya adalah mengambil bahan urat kayu besarnya dari kayu yang bersangkutan untuk dapat di amalkan dalam beberapa malam berikut ini.ini baru salah satu kayu yang ditandai. Biasanya kayu yang ditandai tidak cukup hanya satu biasanya sampai 3 batang dengan proses yang sama dari awal hingga akhir. Pekerjaan selanjutnya adalah ada pada dukun tadi sehingga ia punya waktu untuk memilih kayu mana yang paling baik dijadikan jalur termasuk pertambangan intennya komunikasi  sang dukun dgn mambang kayu tersebut dan tarik menarik argumen  antara mambang dan sang dukun sehingga bias bekerja sama untuk dimanfaat kan sebagai jalur .(wawancara sengan mudarus yang digelar bendahara, sabtu, 27 agustus 2011 dirumahnya di ujung tanjung)


C.MANOBANG  JALUR


Jika kayu yang telah dicinai tadi selama beberapa malam telah diamal kan oleh dukun jalur dengan banir tua yang sudah ia miliki maka sampailah ia kepada keputusan kayu mana diantara beberapa pokok tadi yang akan ditebang dan seterusnya dan seterusnya akan dibawa kedesa untuk di hela dan ditarik dengan cara bergotong royong setiap minggu mereka pergi kembali kehutan rimba seperti proses ketika akan mencari kayu seperti semula, akan tetapi persiapan nya sudah lebih lengkap bila dibandingkan dengan mencari atau mencinai kayu Karena mereka teleh membawa apa-apa saja yang diperlukan untuk acara penebangan  sebaimana yang dikehendaki oleh mambang atau penghuni kayu tersebut . dari wawancara penulis ada 3 permintaan yang sering diminta oleh penghuni kayu tersebut . pertama, adalah dua ekor ayam jantan itam jamui dan paruh atau cotokannya . jika ini yang dimintanya maka sang dukun akan duduk terlebih dahulu menghadap kayu tersebut dan posisi kayu adalah sebelah barat dukun berarti dukun juga menghadap kebarat , setelah ia berdo’a dan menyapukan kedua telapak tangan nya ke muka maka ia bangkit dari duduknya lalu menyembelih ayam yang satunya dengan beliunfg yang akan digunakan sebagai untuk menebang dan darah nya harus membasahi banir tua dari kayu  Tersebut . kemudian ayam tadi di bobak (dikuliti) dan di cuci degan air sungai yang ada disekitar tempat kayu tersebut kemudian di beri garam dan di panggang atau di bakar dengan menggunakan kayu kayu yang mersik dan mati di sekitar areal tersebut. Setelah masak maka di berikan kepada tukang , dukun sendiri, anak buah tukang atau tukang pengapit serta partuo,dan rombongan masyarakat yang menyertai. Setelah makan dan minum tadi barulah oleh sang dukun meliahan kea rah mana kayu tersebut akan tumbang. Jika ada perbedaan pendapat tentang arah tumbangnya maka terlebih dahulu harus di selesaikan agar ada kata mufakat dan suara bulat jika masih  ada selang sengketa pendapat maka ini nanti sebagai alamat jalur akan minta korban atau tumbal pada masyarakat sebagai tumbal nya. Hal ini sudah pernah terjadi seperti halnya yang di alami oleh kasin (Alm).beliau waktu muda kena oleh giligan jalur bomber 1958 keti jalur mau di hela atau di tarik. Akhir nya dia mengalami cacat seumur hidup dengan kaki dan tangan tidak bias di gunakan yang diseubut layuah oleh masyarakat setempat sampai yang bersangkutan menemui ajal nya sehingga belum pernah merasakan hidup berumah tangga
    Setelah tempat tumbang telah di sepakati maka kegiatan selanjut nya adalah membersih kan ranting dang mengukur berapa depa panjang jalur tersebut kemudian di beri boriaco/basi (sisa ujuran kayu agar jangan pas-pasan sehingga ada tenggang mana tahu ujung dan pangkal nya pecah). Jika hari sudah petang mka baru lah pulang kembali ke kampung. Kalau jaman dahulu seperti tahun 1958 mereka para tukang dan partuo jalur membuat barung-barung (kemah) selama mengerjakan jalur tersebut sampai dengan mendiang atau melayur.
     Ketika mau pulang tadi ayam itam jamui yamh satu nya lagi di lepaskan sehingga nanti apakah ayam tersebut bertahan hidup atau malah memilih untuk mengikuti rombongan tadi. Jika memilih mengikuti maka itu sebagai pertanda bahwa mambang tadi mau ikut dengan mereka terutama sang dukun artinya dia bias di suruah serayo (bias untuk minta tolong). Bahkan ada juga ayam tersebut tidak ikut tetapi ia kelihatan linglung serta bahkan menjadi ayam hutan yang liar kembali serta berkembang biak di hutan tersebut
    Versi yang ke dua, yaitu membawa ayam kuniang biriang (kuning seperti orang yang kena beri-beri),semuanya kuning. Jumlah hanya satu ekor saja guna nya untuk mendarahi penebangan itu agar jangan mendapat halangan. Versi yang ketiga, terserah apa saja warna bulu ayam nya tetapi setelah di sembelih untuk darah nya di ambil maka ayamnya oleh sang dukun di bawa pulang untuk di masak tetapi isi dalam nya ia sendiri yang memakan nya. Berdasarkan isi perut ayam tersebut ia akan tahu keadaan kayu tersebut apakah berlobang, dan kalau berlibang di bagian mana saja. Kemudian setelah kayu itu di tebang maka iya ganti dengan kayu kecil dan ditancap kan di atas pohon yang di tebang tadi yang di maksudkan sebagai pengganti kayu yang sudah di tebang di tumbang kan tadi. Aneh nya seperti terjadi pada jalur rajo mudo dubalan kuantan pulau bungin kayu yang ditancapkan tadi ternyata tumbuh, hidup dan berkembang sebagai kayu lainnya ujang sang dukun pada hal ia tidak ditanam di tanah secara langsung.jenis kayu nya yang ditancapkan itu adalah kayu binio. (wawancara dengan dukun kayu jalur, ahad, 11 september 2011 di rumah nya).

D.MAELO JALUR
Proses maelo jalur  dimulai juga dengan ada nya canang banjar yang akan mengumumkan tentang acara untuk besok pagi kita akan bergotong royong menarik jalur dari hutan rimbo ke desa.Dengan bunyi canang oh urang banjar iko lah tibo lo perintah dari banjar bahwa bisuak pagi awak besamo-samo maelo jalur awak tu di rimbo gono yaitu rimbo kukok.Untuak itu kepado induak-induak,ondek-ondek tolong di bao bungkui nasi sa ibek nasi bisuak dan buek tambual bawoan untuak awak dan untuak urang. Nan jantan bapak-bapak bao ladiang saruang kapak atau baliuang untuak menobang jalur,lai obe ru.Nah awak bekumpual di tompek panyaborangan (kompang).
  Pada hari berikut nya saat akan pergi maelo jalur maka orang bujang ada di kampong itu akan mengantarkan beras,tepung,telur,ikan sarden besar dengan segala perlengkapan yang akan di masak ke rumah goraan nya (pacar) akhir nya besok pergi ikut secara bersama-sama untuk pergi maelo jalur dari hutan.
  Setelah mereka berkumpul di tempat yang telah di janjikan tersebut maka dalam perjalanan yang berkelompok-kelompok tersebut ada yang di tunjuk untuk penunjuk jalan dari partuo jalur.Dalam perjalanan tersebut tidak sampai dari surak-surak adalah semacam  pertanda ada teman lain,ada apa tidak di dalam hutan rimbo tersebut.Jika surat tadi dibalas,maka berarti ada orang lain,teman kita yang menyukai ada penyadap karet,atau mencari rotan,dammar,cari petai,juga kebun dan pekerjaan  mencari   hasil hutan lainnya.Dalam perjalanan tersebut dalam berbual-bual dengan cerita lucu dan konyol serta diberikan dengan berbagai teka-teki yang baik dan bahkan jenaka dan lucu seperti aponyo aang iko aa.Ndok ndiang artinya tersisik di dinding (sendok tersisip di dinding) kelompok yang tidak bisa membalas  lagi dengan teka-teki sebagai balasan dari 1-0 yang di terima yaitu : koa kok bisa dek aang menjawab nya.enyo mintak di masuak an la di masukan inyo di luar jo,apo nyo aang,aponyo kau.(dia mintak di masukkan tapi setelah di masukkan di masih di luar juga) jawabannya adalah buah baju (kancing baju).Begitulah seterusnya dengan berbagai  teka-teki yang saling balas-membalas akhirnya dengan tidak terasa mereka rupanya telah sampai ke pungko jalur.Semakin jauh tempat mencari jalur semakin banyak teka-teki dan cerita dlm perjalanan tersebut.
  Hal seperti itu dimaksudkan juga adalah sebagai pengontoran (untuk menghilangkan dari rasa takut dari tempat tempat yang anker hutan sunyi tersebut). Maka sudah sampai rombongan tadi beristirahat sejenak partuo jalur membuat dan mencari tali untuk maelo jalur yang terbuat dari rotan dan dengan kebudian di iekekan di luar jalur dengan menyangkut kan di telinga jalur yang masih sabal. Sabal adalah semacam bayangan jalur yang sudah berbentuk dan tidak lagi dalam bentuk kayu bulat tapi sudah agak ringan untuk di tarik bersama-sama. Setelah ada tali untuk ditarik secara bersama-sama. Setelah tali siap ada aba-aba dari naik tangan dari yang mengucap kan lah ado tali di tangan. Pogang tali,dengan aba-aba 1-2-3 tariak torui panjang mungkin
   Jika kelihatan orang yang maelo jalur sudah kelihatan lelah maka tambual dan kue-kue tersebut sudah bisa untuak di makan dengan membentangkan tikar atau beralaskan daun-daun rimba, bagi yang punya pacar tadi maka di perboleh kan makan ke semak sambil membawa bekal yang telah dibawa dan di persiap kan dari tadi pagi,bahkan tadi makan tambual dan kue ini di keluarkan pada jam 10.00 wib tadi pagi. Kemudian setelah ini di lakukan, maka kembali di suruh untuk menarik jalur kembali dengan aba-aba yang sam yaitu 1,tali dipogang 2,badan membungkuak 3,menangkui. Maka menjelang siang berati maka masuk waktu suhur dengan sholat dan makan siang. Selesai hal itu mka lanjutkan kembali sampai dengan waktu asar, tapi ketika anggota maelo jalur jadi kecapean maka partuo jalur akan memutus kan tali dengan menconcang dengan menggunakan parang tajam dan orang sekuat-kuat nya dengan tenaga menarik jalur, maka ketika tali putus orang yang berpacaran tadi akan jatuh berhimpitan dengan pacar bahkan serak serai pecah kembali di antara mereka para peserta penarik jalur ada yang saling membersih kan pakaian masing-masing dan urutan di antara mereka.
    Ketika hari sudah soreh mereka pulang bersama-sama untuk menuju rumah maasing-masing dengan perjalanan yang  sangat melelah kan maka agar terasa perjalanan mereka kembali berbual-bual (berceri yang lucu dan jenaka) dari orang yang sudah di tentukan atau bah di tingkah orang lain lagi. Meelo jalur jalur ini biasa nya biasa nya hanya di lakukan setiap hari , minggu/ahad sehingga bahwa jalur tersebut samapi di desa memerlukan waktu lebih kurang 3 bulan,itu dengan catatan jika jalur tidak terbenam di dalam lumpur kalau tetanam itu lebih lama lagi.
  Akan tetapi sekarang ini masyarakat mulai bergesr maelo jalor ini dengan menggunakan chainsaw dalam menebang dan dalam bentuk kayu bulat di tarik ke desa dengan menggunakan cartefilar atau alat berat sehingga masyarakat tidak perlu setiap ahad pergi ke rimba tetapi cukup dengan beriuran untuk biaya nya mebawa nya ke desa.Hal ini jika terus menerus terjadi maka  kebersamaan dan semangat gotong royong sudah mulai luntur bahkan sudah untujk muda-mudi mengenali lawan jenis nya semakin tidak ada dan antar mengantar sesuatu yang akan di masak tidak ada lagi sehingga suatu saat ini bisa saja memintak nya tidak pandai memasak karena dengan maelo jalur lah seorang wanita bersama memasak dengan baik dan enak agar orang yang mengatar bekal tersebut yang tidal lain adalah pacarnya sendiri enak dan lahap dalam memakan dan mencicipi hasil makanan nya.

E. PEMBUATAN JALUR
  Pembuatan jalur di hutan tempat kayu tersebut,di tebang bukan lah sampai selesai sampai 100% tetapi penggarapan jalur tersebut hanya selesai kira-kira 50%.Tujuan nya agar kayu yang akan di tarik besama-sama oleh masyarakat yang sudah dewas tidak terlalu berat karena badan jalur bagian tengah sudah banyak yang di kurangi.Penarik jalur dari hutan( dari tempat kayu jalur) di tebang sampai ke desa biasanya di tepui salah satu lapangan bola akan tempat yang cukup luas dan strategis untuk menyelesaikan pembuatan jalur.
  Pembuatan jalur selayak jadi seperti yang di gambar tadi mengalami perubahan maka sejak tahun 1991. Artinya,sebagian jalur telah diproses sampai selayak jadi di hutan sebagai batang dip roses di desa tersebut. Karena terbuka nya akses jalan dari hutan ke desa. Pada umumnya akses jalan tersebut di buat oleh perusahaan yang beroperasi di wilayah kabupaten,kuantan singing. Dengan demikian hanya jalur yang sudah du tebang di hutan dapat di angkat dengan menggunakan truk sampai ke desa. Setelah sampai di desa barulah kayu bulat tersebut diproses pembuatan nya sampai selesai dan siap untuk di lombakan. Jika kayu jalur yang masih bulat itu di olah di tari bersama-sama oleh masyarakat. Ia tidak akan langsung ditarik karena sangat berat walaupun bisa ditarik maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan hal tersebut akan menggangu anggota masyarakat untuk menjalankan pekerjaan rutin meraka sehai-hari.


singa kuantan