Selasa, 03 Maret 2015

sekilas tentang riau ()

 Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah pulau Sumatera. Provinsi ini terletak di bagian tengah pantai timur Pulau Sumatera, yaitu di sepanjang pesisir Selat Melaka. Hingga tahun 2004, provinsi ini juga meliputi Kepulauan Riau, sekelompok besar pulau-pulau kecil (pulau-pulau utamanya antara lain Pulau Batam dan Pulau Bintan) yang terletak di sebelah timur Sumatera dan sebelah selatan Singapura. Kepulauan ini dimekarkan menjadi provinsi tersendiri pada Juli 2004. Ibu kota dan kota terbesar Riau adalah Pekanbaru. Kota besar lainnya antara lain Dumai, Selat Panjang, Bagansiapiapi, Bengkalis, Bangkinang dan Rengat.

Riau saat ini merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia, dan sumber dayanya didominasi oleh sumber alam, terutama minyak bumi, gas alam, karet, kelapa sawit dan perkebunan serat. Tetapi, penebangan hutan yang merajalela telah mengurangi luas hutan secara signifikan, dari 78% pada 1982 menjadi hanya 33% pada 2005. Rata-rata 160,000 hektar hutan habis ditebang setiap tahun, meninggalkan 22%, atau 2,45 juta hektar pada tahun 2009. Deforestasi dengan tujuan pembukaan kebun-kebun kelapa sawit dan produksi kertas telah menyebabkan kabut asap yang sangat mengganggu di provinsi ini selama bertahun-tahun, dan menjalar ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Luas wilayah provinsi Riau adalah 87.023,66 km², yang membentang dari lereng Bukit Barisan hingga Selat Malaka. Riau memiliki iklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 milimeter per tahun, serta rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari. Provinsi ini memiliki sumber daya alam, baik kekayaan yang terkandung di perut bumi, berupa minyak bumi dan gas, serta emas, maupun hasil hutan dan perkebunannya. Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, secara bertahap mulai diterapkan sistem bagi hasil atau perimbangan keuangan antara pusat dengan daerah. Aturan baru ini memberi batasan tegas mengenai kewajiban penanam modal, pemanfaatan sumber daya, dan bagi hasil dengan lingkungan sekitar.

Penduduk provinsi Riau terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Mereka terdiri dari Jawa (25,05%), Minangkabau (11,26%), Batak (7,31%), Banjar (3,78%), Tionghoa (3,72%), dan Bugis (2,27%). Suku Melayu merupakan masyarakat terbesar dengan komposisi 37,74% dari seluruh penduduk Riau. Mereka umumnya berasal dari daerah pesisir di Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, hingga ke Pelalawan, Siak, Inderagiri Hulu dan Inderagiri Hilir. Namun begitu, ada juga masyarakat asli bersuku rumpun Minangkabau terutama yang berasal dari daerah Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan sebagian Inderagiri Hulu. Juga masyarakat Mandailing di Rokan Hulu, yang lebih mengaku sebagai Melayu daripada sebagai Minangkabau ataupun Batak.


Rumah Tradisional Riau

Selaso Jatuh Kembar adalah Rumah adat di daerah Riau. Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan musyawarah adat. Corak dasar Melayu Riau umumnya bersumber dari alam, yakni terdiri atas flora, fauna, dan benda-benda angkasa. Benda-benda itulah yang direka-reka dalam bentuk-bentuk tertentu, baik menurut bentuk asalnya seperti bunga kundur, bunga hutan, maupun dalam bentuk yang sudah diabstrakkan atau dimodifikasi sehingga tak lagi menampakkan wujud asalnya, tetapi hanya menggunakan namanya saja seperti itik pulang petang, semut beriring, dan lebah bergantung.

Di antara corak-corak tersebut, yang terbanyak dipakai adalah yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan (flora). Hal ini terjadi karena orang Melayu umumnya beragama Islam sehingga corak hewan (fauna) dikhawatirkan menjurus kepada halhal yang berbau “keberhalaan”. Corak hewan yang dipilih umumnya yang mengandung sifat tertentu atau yang berkaitan dengan mitos atau kepercayaan tempatan. Corak semut dipakai -walau tidak dalam bentuk sesungguhnya, disebut semut beriringkarena sifat semut yang rukun dan tolong-menolong. Begitu pula dengan corak lebah, disebut lebah bergantung, karena sifat lebah yang selalu memakan yang bersih, kemudian mengeluarkannya untuk dimanfaatkan orang ramai (madu). Corak naga berkaitan dengan mitos tentang keperkasaan naga sebagai penguasa lautan dan sebagainya. Selain itu, benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, matahari, dan awan dijadikan corak karena mengandung nilai falsafah tertentu pula.

Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas.

Rumah Lancang merupakan Rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya serangan binatang buas dan terjangan banjir. Di samping itu, ada kebiasaan masyarakat untuk menggunakan kolong rumah sebagai kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang, tempat anak-anak bermain, dan gudang kayu, sebagai persiapan menyambut bulan puasa. Selain itu, pembangunan Rumah berbentuk panggung sehingga untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah ganjil, lima, merupakan bentuk ekspresi keyakinan masyarakat.


Pakaian Tradisional Riau

Pakaian Adat Melayu Riau ini adalah pakaian tradisional Riau, walaupun ada beberapa macam-macam namun hanya satu pakaian adat untuk daerah Riau, yaitu Pakaian Adat Melayu Riau. Bagi orang Melayu, pakaian selain berfungsi sebagai penutup aurat dan pelindung tubuh dari panas dan dingin, juga menyerlahkan lambang-lambang. Lambang-lambang itu mewujudkan nilai-nilai terala (luhur) yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

Dengan bersebatinya lambang-lambang budaya dengan pakaian, kedudukan dan peran pakaian menjadi sangat mustahak dalam kehidupan orang Melayu. berbagai ketentuan adat mengatur tentang bentuk, corak (motif), warna, pemakaian, dan penggunaan pakaian. Ketentuan-ketentuan adat itu diberlakukan untuk mendidik dan meningkatkan akhlak orang yang memakainya.

Pakaian Melayu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut ada makna dan gunanya. ”Semuanya dikaitkan dengan norma sosial, agama, dan adat-istiadat sehingga pakaian berkembang dengan makna yang beraneka ragam. Makna pakaian melayu juga dikaitkan dengan fungsinya, yaitu pakaian sebagai penutup malu, pakaian sebagai penjemput budi, dan pakaian sebagai penolak bala.

Pada kaum laki-laki terdapat tiga jenis pakaian adat melayu. Pertama, baju melayu cekak musang yang terdiri dari celana, kain dan songkok. Baju ini biasa digunakan pada acara-acara keluarga seperti kenduri. Kedua baju melayu gunting cina, baju ini biasa digunakan dalam sehari-hari dirumah untuk mengadakan acara yang tak resmi. Dan ketiga, baju melayu teluk belanga, baju ini terdiri dari celana, kain sampin dan penutup kepala atau songkok.

Sedang pakaian kaum perempuan ada dua yaitu pertama baju kurung, yang terdiri atas kain, baju dan selendang. Selendang dipakai dengan lepas di bahu dan biasanya tak melingkar di leher pemakai. Dan kedua, baju kebaya labuh, ynag terdiri atas kain, baju dan selendang. Panjang lengan baju kira-kira dua jari dari pergelang an tangan sehingga gelang yang dikenakan kaum perempuan kelihatan. Lebar lengan baju kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Kedalaman baju bervariasi dari sampai batas betis atau sedikit ke atas.

Bagi perempuan dalam berpakaian dilengkapi dengan siput (sanggul) yang terdiri atas tiga macam yaitu, siput tegang, siput cekak, dan siput lintang. dan tudung atau penutup kepala.


Senjata Tradisional Riau

Orang Melayu Riau mengenal berbagai jenis senjata tradisional, yang dikategorikan ke dalam senjata pendek (seperti jembia, keris, belati, badik, beladau, dan sabit), serta senjata panjang (tombak, kojou, pedang, seligi, dan sundang). Senjata-senjata tersebut tidak mutlak diperlukan. Dari sekian banyak jenis senjata tradisional yang ada, yang banyak dimiliki masyarakat adalah jenis pedang, tombak, keris, dan badik.

Pedang ‘jenawi’ merupakan sejenis senjata pedang yang dipergunakan oleh para panglima perang tempo dulu. Jenis senjata badik (sekin) yang umum digunakan adalah ‘tumbuk lada’, yang bentuknya seperti keris tetapi ukurannya lebih pendek.

Senjata ini digunakan untuk berperang dan keperluan sehari-hari. Pada mata badik yang untuk berperang sering diolesi dengan racun. Penggunaan badik untuk melawan musuh tersirat dalamungkapan: “Bila badik telah ditarik dari sarungnya, maka harus ditikamkan pada suatu benda atau binatang. Barulah kemudian badik dimasukkan pada sarungnya ”. Ungkapan inimenggambarkan, orang Melayu Riau pantang menyerah dalam menghadapi segalatantangan.


Bahasa Daerah. Bahasa pengantar masyarakat provinsi Riau pada umumnya menggunakan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu umumnya digunakan di daerah-daerah pesisir seperti Rokan Hilir, Bengkalis, Dumai, Pelalawan, Siak, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan di sekitar pulau-pulau. Bahasa Minang secara luas juga digunakan oleh penduduk di provinsi ini, terutama oleh para oleh penduduk asli di daerah Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu yang berbudaya serumpun Minang serta para pendatang asal Sumatera Barat.

Selain itu Bahasa Hokkien juga masih banyak digunakan di kalangan masyarakat Keturunan Tionghoa, terutama yang bermukim di daerah seperti Selatpanjang, Bengkalis, dan Bagan siapi-api. Dalam skala yang cukup besar juga didapati penutur Bahasa Jawa yang digunakan oleh keturunan para pendatang asal Jawa yang telah bermukim di Riau sejak masa penjajahan dahulu, serta oleh para transmigran dari Pulau Jawa pada masa setelah kemerdekaan. Di samping itu juga banyak penutur Bahasa Batak di kalangan pendatang dari Provinsi Sumatera Utara.


Flora Identitas Riau adalah Nibung (Oncosperma tigillarium syn. O. filamentosum), yaitu sejenis palma yang tumbuh di rawa-rawa Asia Tenggara, mulai dari Indocina hingga Kalimantan.

Tumbuhan ini berupa pohon dengan bentuk khas palma: batang tidak atau jarang bercabang, dapat mencapai 25m, dapat memunculkan anakan yang rapat, membentuk kumpulan hingga 50 batang. Batang dan daunnya terlindungi oleh duri keras panjang berwarna hitam. Daunnya tersusun majemuk menyirip tunggal (pinnatus) yang berkesan dekoratif.

Kayu nibung sangat tahan lapuk sehingga dipakai untuk penyangga rumah-rumah di tepi sungai di Sumatera dan Kalimantan. Temuan arkeologi di daerah Jambi menunjukkan sisa-sisa penyangga rumah dari kayu ini di atas tanah gambut dari perkampungan abad ke-11 hingga ke-13. Kayunya juga dipakai untuk jala ikan (di Kalimantan).


Fauna Identitas Riau adalah Serindit melayu atau dalam nama ilmiahnya Loriculus galgulus, yaitu sejenis burung yang terdapat di dalam genus burung serindit Loriculus. Burung ini berukuran kecil, dengan panjang mencapai 12cm. Bulunya didominasi oleh warna hijau dengan bulu ekor berwarna merah.

Burung jantan dan betina serupa. Burung serindit jantan memiliki bercak kepala berwarna biru dan bercak tenggorokan berwarna merah. Burung betina berwarna lebih kusam dibanding jantan. Populasi Serindit melayu tersebar di hutan dataran rendah, dari permukaan laut sampai ketinggian 1,300m di negara Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand.

Serindit Melayu hidup dalam kelompok. Burung ini memiliki kebiasaan aktif memanjat dan berjalan daripada terbang. Saat istirahat, burung serindit menggantungkan badan ke bawah. Pakannya terdiri dari sayuran hijau, buah-buahan, padi-padian dan aneka serangga kecil. Burung betina biasanya menetaskan antara tiga sampai empat butir telur yang dierami sekitar 18 sampai 20 hari.

Spesies ini mempunyai daerah sebaran yang luas dan sering ditemukan di habitatnya. Serindit Melayu dievaluasikan sebagai beresiko rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.


Tarian Tradisional Riau

Tari Makan Sirih. Tari ini biasanya disebut dengan tari persembahan, yaitu tarian yang sering digunakan untuk menyambut tamu atau pembukaan acara-acara tertentu. Dengan adanya tari persembahan ini menunjukkan bahwa orang Melayu sangat menghargai hubungan persahabatan serta kekerabatan.

Dalam tarian Melayu seorang penari harus memahami setiap gerakan yang digerakkannya. Pada tari persembahan biasanya ditarikan oleh pasangan muda mudi, tapi setelah perkembangan zaman tarian ini mulai sering dilakukan oleh yang lebih tua. Sedangkan dalam busana yang digunakan adala busana adat Melayu lengkap, baik perempuan maupun laki-laki. Sedangkan unutuk urusan musik pengiring biasanya menggunakan lagu khas Melayu.

Dalam tarian ini ada banyak nilai nilai yang terkandung, yaitu: Nilai kasabaran, Hiburan, Pelestarian budaya, Seni, Olah raga, dan Kreativitas.

Keberadaan Tari Makan Sirih ini mencerminkan bagaimana orang Melayu sangat menghormati sekaligus menciptakan suasana hangat dan bersahabat bagi para tamu yang berkunjung. Kandungan ajaran budi pekerti Melayu ini mengisyaratkan pentingnya melestarikan budaya Tari Makan Sirih, agar budaya ini tidak termakan zaman dan nilai nilai positif yang terkandung juga tidak hilang.

Tari Zapin. Menurut sejarah, tarian Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan di kalangan raja-raja di istana setelah dibawa dari Yaman oleh para pedagang-pedagang di awal abad ke-16. Masyarakat Melayu termasuk seniman dan budayawannya memiliki daya kreasi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu, setelah itu baru tersebar di antara penduduk Melayu.

Bahasa gerak yang disampaikan lewat Tari Zapin dengan berbagai ragamnya seperti ragam tongkah, anak ayam patah dan geliat merupakan perumpamaan dan kiasan alam lingkungan di mana kehidupan tersebut berlangsung. Secara nyata makna gerakan ragam tongkah menggambarkan suasana sampan yang sedang dikayuh oleh seseorang menentang arus sungai. Hal ini menandakan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan harus dengan sikap gigih, patang menyerah dan punya perhitungan yang matang.

Sedangkan ragam anak ayam patah mengaplikasikan kehidupan yang tak kenal lelah dan menerima apa-apa yang telah terjadi sebagai memaknai sikap hidup yang mengedepan apa adanya sekaligus tidak menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada. Lain lagi akan halnya ragam geliat yang menirukan gerakan orang sedang menggeliat yang maknanya adalah mengandung hikmah kesehatan dan menyegarkan sekalian tubuh. Di sisi lain, semua ragam yang terdapat dalam Tari Zapin tersebut memberi pelajaran tentang bagaimana sikap serta tingkah laku orang Melayu yang seharusnya.

Dalam Tari Zapin juga terkandung makna adab sopan santuan, sikap hormat dan memuliakan orang lain seperti yang disampaikan melalui ragam alif sembah atau dikenal juga sebagai salam pembuka. Nilai maupun makna ragam alif sembah ini memberi pelajaran tentang tatacara bersopan santun, berbudi baik, bersikap rendah hati pada setiap orang yang berada dihadapannya. Bagitu juga akan halnya ragam tahto dalam Tari Zapin yang bermakna penutup atau penyudah dari sebuah persembahan yang disampaikan pada setiap orang yang melihatnya. Dalam hal ini nilai pembelajaran yang termuat adalah memberi salam akhir perjumpaaan atau hormat diri sekaligus kata-kata perpisahan.

Joget Lambak atau joget dangkung merupakan suatu tarian yang cukup populer bagi masyarakat melayu. Dalam perkembangannya ,joget lambak ini telah berkembang didaerah Bintan, Batam, Moro dan tersebar luas diseluruh masyarakat Kepulauan Riau.

Menurut sejarahnya, joget lambak memang sudah ada sejak dari zaman dahulu maupun sejak zaman kerajaan–kerajaan melayu Riau-Lingga. Joget Lambak ini juga merupakan rangkaian perjalanan dari kebudayaan melayu yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh waktu. Gerak tariannya yang sangat lemah gemulai dan berlenggang menjadi khas suatu tanda, bahwa tarian ini tetap ada disepanjang zaman.

Pada umumnya lagu-lagu yang ditarikan dalam Joget Lambak adalah lagu atau irama joget seperti Serampang Laut, Anak Kala, Tanjung Katung dan juga lagu Dondang Sayang. Alat musik yang digunakan juga sangat sederhana seperti Biola, Gong atau Tetawak dan Gendang, suatu alat musik yang menjadi lambang kesenian tradisional melayu.

Kesenian Boria dimainkan oleh kaum lelaki. Jumlah pemain sebanyak 20 orang ditambah 1 orang komandan yang disebut Kapten. Tugasnya adalah mengatur perbarisan dan menjadi ssentral cerita di dalamnya. Sementara anak buah dipimpin oleh seorang sarjen (sersan).

Gerakan dalam Boria cukup sederhana. Sumber gerak diambil dari gerak berbaris, hormat, keseharian, dan permainan anak-anak. Pola lantai berupa garis lurus dan lengkung. Busana terdiri dari Baju ala tentara Belanda, sepatu, kaos kaki, topi tarbus dan diberi pernak-pernik sehingga terkesan meriah. Boleh menggunakan kacamata. Musik cukup sederhana dengan menggunakan genderang snar drum dan akordian. Boleh juga ditanbah terompet dan peluit.


Kuliner Khas Riau

Roti jala & roti cane/canai adalah makanan yang masing-masing berasal dari Timur Tengah dan India yang telah di adopsi oleh Indonesia. Makanan ini sudah nenjadi "sangat Melayu" dan merupakan kuliner khas di Riau. Biasanya makanan ini disuguhkan bersama Kare.

Roti Jala berasal dari Timur tengah yang bentuknya menyerupai jala. Roti ini juga disajikan sebagai pendamping Kari atau Gulai. Sedangkan Roti Cane/Canai ini berasal dari India, hanya di India namanya Roti Chapati. Bentuk tekstur roti bisa beragam ada yang seperti proses diatas, atau ditipiskan lebar lalu dilipat-lipat seperti martabak, baru kemudian dipanggang.

Bolu Kemojo adalah panganan khas Melayu dari Riau. Bolu kemojo ini bukan seperti bolu yang sering kita dengar ya, mentang-mentang depannya bolu jadi pikirannya bolu yang sudah populer itu, memang hampir mirip tapi bolu kemojo memiliki tekstur yang berbeda karena ia disengaja dibuat tidak mengembang sehingga menjadi padat dan ketika memakannya akan terasa sangat legit. Makanan jajanan ini bisa mengenyangkan.

Bolu kemojo paling sering dijumpai ketika hajatan, bulan ramadhan dan ketika hari raya Idul Fitri. Maka tak heran di riau ketika bulan ramadhan tiba jajanan satu ini akan banyak dijajahkan oleh masyarakat disana.

Pada mulanya, bolu kemojo ini hanya memiliki satu rasa saja yaitu rasa pandan, tapi seiring waktu berjalan banyak yang melakukan eksperimen dengan membuat bolu kemojo berbagai rasa, seperti rasa durian, rasa nangka, rasa keju dan masih banyak rasa lagi. Walaupun banyak rasa menurut beberapa sumber yang diminati masyarakat adalah yang masih original. Oke, itu masalah selera, tergantung cita rasa masing-masing.

Kue Bangkit, atau kue Bangket, merupakan kue tradisional khas Melayu. Kue bangkit menjadi salah satu kue khas yang disajikan pada momen Hari Raya Idul Fitri. Bahkan orang Tionghoa di daerah-daerah tersebut juga menjadikan kue bangkit ini sebagai salah salah kue khas yang disajikan pada Hari Raya Imlek, sehingga di sini terjadi semacam silang budaya yang erat dan harmonis antara etnis Melayu dan Tionghoa.

Dinamakan kue bangkit karena ukuran dari kue ini setelah matang dan dikeluarkan dari oven bisa berukuran dua kali lipat dari ukuran adonan semula. Warna kue bangkit ini putih kekuningan dan kadang dipercantik dengan diberi noktah berwarna merah di atasnya. Tekstur kue bangkit sangat halus dan gampang remuk. Kue bangkit akan lumer di dalam mulut dan mempunyai rasa yang renyah ketika dikunyah. Rasanya yang manis menjadi daya tarik bagi anak-anak.

Kue Asidah, Kuliner Melayu Asli Arab. Kue asal Arab ini justru dikenal sebagai salah satu makanan khas Melayu yang hampir punah. Masyarakat Melayu menyebutnya Kue Asidah ada juga yang bilang Khasidah atau Qasidah, berbeda dengan kuliner Melayu yang biasanya gurih dan manis, kue yang satu ini memang teramat spesial bahkan punya perbedaan yang cukup mendasar, selain bentuknya yang bisa dibuat sesuka hati, cara manikmatinya juga cukup unik, pakai bawang goreng.

Dari segi rasa tentu saja juga cukup berbeda, jangan bandingkan dengan lempuk durian ataupun kue bangkit, atau bagi yang terbiasa makan roti Jala dan juga Canai. Kue yang konon kabarnya memang berasal dari negara Timur Tengah ini sudah sangat sulit ditemui dan sangat jarang diproduksi.

Dari bentuknya saja memang mengundang rasa penasaran, namun seperti halnya kue-kue khas Melayu, kue Asidah memiliki tekstur yang sangat lembut dan rasanya manis perpaduan rempah seperti cengkeh, kayu manis dan daun pandan. Dahulunya, kue ini dikenal sebagai kue tradisonal masyarakat Melayu, bahkan selalu ada pada saat perayaan acara-acara besar, terutama acara adat, selain itu pada acara resepsi pernikahan, kue-kue ini juga ada, namun saat ini memang sudah sangat sulit ditemukan.

Ikan Selais Asap adalah salah satu produk yang berasal dari Provinsi Riau. Produk ini adalah jenis makanan yang berasal dari bahan baku yaitu ikan Selais. Produk ini bisa dikatakan makanan khas dari Daerah Riau.

Cara pembuatan ikan asap selais ini sendiri merupakan hal yang cukup sederhana, yaitu ikan selais yang didapat dari sungai kemudian dijemur selama lebih kurang 1 hari. Setelah dijemur ikan tersebut diasap dengan menggunakan kulit kayu agar dapat memberikan aroma citarasa yang khusus, juga dilakukan pengasapan dengan menggunakan rambutan sebagai aroma khas.

Ikan dari riau ini sendiri yang mempunyai berat dalam keadaan segar yang mencapai 3 – 4 ons setelah dilakukan pengasapan mempunyai berat kurang dari 1 ons per ekornya, namun hal tersebut membuat ikan tersebut nikmat untuk dinikmati dan terasa gurih. Pengolahan ikan asli riau ini di daerah asalnya kebanyakan digoreng dengan cabe merah yang diberi sedikit air jeruk nipis, sehingga memberikan sensasi khas saat dinikmati.

Ikan asap selais ini mempunyai harga yang tidak tetap, yaitu seputaran Rp. 140.000 sampai Rp. 160.000 perkilonya. Bahan mentahnya yang adalah ikan Selais ini, hanya terdapat di daerah aliran sungai Rokan kabupaten Rokan Hilir, kecamatan Rantau Kopar, Desa Sungai Rangau salah satunya, selain di daerah Kabupaten Kampar atau aliran sungai Kampar di Provinsi Riau.

Gulai Ikan Patin. Keberadaan kota Pekanbaru yang diapit oleh 4 sungai Siak, Sungai Rokan, Sungai Kampar dan Sungai Indragiri memungkinkan Pekanbaru mendapatkan suplai ikan patin yang berlimpah. Dan salah satu masakan yang juga terkenal enak di Riau yaitu Gulai Ikan Patin. Kekhasan gulai ikan patin terletak pada kuahnya yang berwarna kuning dengan potongan-potongan ikan patin yang besar.

Gulai Asam Pedas Ikan Patin, juga merupakan satu menu yang diwajibkan dihidangkan dalam tiap acara keluarga di Provinsi Riau, tiada hari bisa dilewatkan tanpa gulai asam pedas ikan patin. Bahkan gulai asam pedas ikan patin merupakan hidangan kas Melayu dan sebuah prestise khususnya pada acara menanti menantu datang, 'manjalang mintuo' atau menjelang mertua, hingga perhelatan atau pesta kawinan, dan sunnatan.

Gulai asam pedas ikan patin sudah mentradisi dan terus menjadi menu wajib bagi tiap keluarga di Porvinsi Riau. Gulai asam pedas ikan patin, semacam hidangan wajib dan khas Melayu.

Lempuk Durian merupakan salah satu Jenis Makanan Khas dari Riau yang terbuat dari Durian. Lempuk ini berbentuk seperti dodol. Selain di Riau, lempuk juga dapat dijumpai di daerah lain di Sumatera. Siapa sih yang tidak kenal dengan lempuk durian, "Makanan Khas Riau" ini berasal dari Kab. Bengkalis, bahkan lempuk sudah menjadi ikon Bengkalis. Jika kita berkunjung ke Bengkalis kurang lengkapnya jikanya tidak membeli buah tangan Lempuk Durian.

Es Laksamana Mengamuk merupakan minuman dingin yang menggunakan buah kuini sebagai bahan utama. Konon, keberadaan minuman ini berawal dari mengamuknya seorang laksamana di kebun kuini. Laksamana tersebut mengamuk lantaran istrinya dibawa lari oleh pemilik kebun kuini tersebut. Sang laksamana menebas-nebaskan pedangnya ke seluruh penjuru, hingga puluhan buah kuini hancur karena kemarahannya ini.

Usai sang laksamana menuntaskan kemarahannya dan pulang, orang-orang di sekitar kebun kuini mengambil puluhan buah kuini yang sudah tercincang dan terhampar di rumput. Pada awalnya, orang-orang tersebut bingung, akan diapakan buah kuini yang telah terpotong-potong tersebut. Hingga salah seorang wantia, mencampurkan potongan-potongan buah kuini itu dengan air santan dan gula merah. Jadilah minuman segar, yang pada waktu itu, langsung dinikmati oleh orang sekampung.

Es air mata pengantin adalah salah satu minuman asli Indonesia yang berasal dari daerah Riau. Minuman ini memiliki nama yang sangat unik. Walaupun nama minuman ini aneh akan tetapi rasa dari minuman yang satu ini sangat segar dan enak. Sekarang ini banyak orang yang mencoba mencari resep es air mata pengantin karena penasaran dengan rasa minuman ini.

Resep es air mata pengantin sebenarnya memiliki komposisi bahan yang mudah anda dapatkan. Apabila anda akan membuat es air mata pengantin ini maka anda harus memastikan bahwa bahan-bahan yang anda gunakan masih segar agar kesegaran dari minuman ini dapat anda rasakan. Anda lebih baik untuk meminum minuman ini pada siang hari karena akan membuat tenggorokan anda semakin segar.


Obyek Wisata Riau

Istana Siak. Kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan Melayu Islam yang terbesar di Daerah Riau, yang terdapat di Kabupaten Siak Srindrapura, dengan Jarak tempuh sekitar 2-3 jam dari Kota Pekanbaru. Kerajaan Siak mencapai masa jayanya pada abad ke 16 sampai abad ke 20. Dalam silsilah Sultan-sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725, dan dengan 12 sultan yang pernah bertahta.

Kini, sebagai bukti sejarah atas kebesaran kerajaan Melayu Islam di Daerah Riau, dapat kita lihat peninggalan kerajaan berupa kompleks Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama ASSIRAYATUL HASYIMIAH lengkap dengan peralatan kerajaan. Sekarang Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kerajaan.

Makam Koto Tinggi. Komplek Makam Koto Tinggi Terletak di sebelah timur Istana Siak. Makam Bersejarah yang ada didalam kompleks ini, meliputi; makam Sultan Syarif Hasyim dan ayahandanya, beserta keluarga dan kerabat kerajaan lainnya.

Kompleks makam ini berukuran 15 x 15 meter persegi. Nisan dari makam yang terdapat di komplek makam ini semuanya berukiran sangat rumit dan indah terbuat dari kayu dan marmer.

Taman Alam Mayang Pekanbaru. Objek Wisata Taman Alam Mayang adalah salah satu objek wisata Favorit bagi Warga di Kota Pekanbaru. Taman ini memiliki Kolam Pancing yang luas, Taman Alam Mayang ini ramai dikunjungi pada hari libur, seperti hari Ahad, Idul Fitri, tahun baru, Natal dan hari-hari libur lainnya.

Kolam Pancing Alam Mayang ini memang disiapkan sebagai salah satu tujuan wisata andalan Pekanbaru, Taman Pancing Alam Mayang berlokasi di Pinggiran Kota Pekanbaru tepatnya di Jl. Harapan Raya/Imam Munandar Pekanbaru (menuju Jalan Lintas ke Kabupaten Pelalawan). Selain menjadi tempat wisata bagi keluarga, Alam mayang juga menyuguhan suasana alamnya, hampir di setiap lokasi alam mayang tersebut dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang yang kondisinya bersih dan sangat terawat dengan baik.

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh yang ada di Riau ini memiliki ekosistem yang unik dan berbeda jika dibandingkan dengan taman nasional lainnya yang ada di Indonesia. Kawasan ini merupakan peralihan antara hutan rawa dan hutan pegunungan, dan juga merupakan hamparan yang terpisah dari rangkaian pegunungan.

Jika berkunjung di bukit ini maka para wisatawan yang berkunjung bisa menikmati pemandangan alam dan isinya termasuk jenis binatang yang beragam seperti beruang madu, kancil, siamang, harimau Sumatra, tapir, dan jenis satwa lainnya. Jenis flora dan fauna langka yang terdapat di bukit ini merupakan kehidupan yang di lindungi oleh pemerintah.

Air Terjun Aek Martua. Pemandangan yang sangat luar biasa yang dihasilkan oleh air terjun ini memang sangat mengagumkan sampai-sampai air terjun Aek Martua ini dijuluki dengan air terjun tangga seribu, karena air terjun tersebut memiliki banyak tingkatan air yang mengalir di bebatuan. Obyek wisata ini terletak di Kabupaten Rokan Hulu, Pekanbaru, Riau.

Wisata Bahari Danau Pulau Besar. Danau Pulau Besar yang berada di Desa Zamrud, Kecamatan Siak Sri Indrapura, Riau ini juga memiliki panorama yang juga menarik dan sangat indah. Di sekitar danau ini masih ditemukan hutan yang asli dan merupakan danau dan hutan yang berstatus Suaka Marga Satwa dimana masih terdapat jenis satwa dan tumbuhan langka yang masih dilindungi pemerintah seperti salah satunya ikan arwana dan ikan balido

Pulau Jemur ini juga merupakan obyek wisata yang sangat indah dan menawan. Pulau Jemur yang terletak kurang lebih 45 mil dari ibukota kabupaten Rokan Hilir dan juga 45 mil dari negara tetangga Malaysia ini terdapat pulau-pulau berbentuk lingkaran sehingga bagian tengahnya merupakan laut yang tenang.

Pulau jemur ini sangat kaya akan hasil lautnya, selain memiliki panorama dan pemandangan yang sangat indah juga terdapat beberapa potensi wisata lainnya yaitu Batu Panglima Layar, taman laut, dan pantai berpasir kuning emas, Goa Jepang, Mercusuar, dan sisa-sisa pertahanan Jepang pada jaman dulu.

Pantai Pasir Panjang. Sesuai dengan namanya, pantai ini memiliki pantai dengan pasir putih bersih yang sangat panjang. Pantai di Pulau Rupat lebih tepatnya di Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau ini sangat cocok untuk berwisata berjemur, olahraga air, rekreasi bersama keluarga, bersantai dan berenang menikmati keindahan pantai dan air laut yang ombaknya sedang.

Objek Wisata Bono River adalah surga baru bagi peselancar. Bono merupakan fenomena alam yang menakjubkan yang terjadi di hilir Sungai kampar atau lebih dikenal dengan sebutan Semenanjung Kampar, tepatnya di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.

Bono adalah fenomena alam yang datang sebelum pasang. Air laut mengalir masuk dan bertemu dengan air sungai Kampar sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari.

Objek wisata Bono River berada di teluk meranti, Teluk Meranti merupakan sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau. Secara geografis lokasi teluk meranti berada di bantar sungai kampar tepat di hilir/muara sungai kampar.

Mengetahui dahsyatnya gelombang bono di sungai kampar ini, mengundang para peselancar untuk bisa berselancar diatas gelombang bono ini. Dan hanya ada satu-satunya di Indonesia daerah atau kawasan yang bisa berselancar di gelombang atau ombak sungai hanya ada di Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan Riau. Para peselancar menjuluki bono river sebagai “SEVEN GHOST” in Sumatera Island.

Bagi anda yang ingin berkunjung dan melihat atau malah berselancar dengan gelombang bono ini dapat menempuh dengan pesawat atau mobil, kalo naik pesawat anda harus menuju pekanbaru (Bandara Sutan Syarif Qasim II), lalu dengan menggunakan mobil sewaan atau punya family dan teman bisa diminta untuk dihantarkan ke Desa Teluk Meranti.

Perjalanan pekanbaru – Teluk Meranti berkisar 5-6 jam perjalanan dan akan melalui Pangkalan Kerinci (ibukota Pelalawan). Setelah itu sampai lah anda ke jalan lintas bono untuk menuju Teluk Meranti.

Mudah-mudahan Objek Wisata Bono River dapat menjadi wisata andalan di Indonesia, khususnya provinsi Riau. Selamat berkunjung kesana dan nikmati keindahannya.


Lain-lain

Bandar Udara :
JAPURA, RGT/WIPR, Domestik, Kec.Lirik, Indragiri Hulu, Riau.
PASIR PANGARAIAN, PPR/WIDE, Domestik, Kec.Rambah Samo, Rokan Hulu, Riau.
SULTAN SYARIF KASIM II, PKU/WIBB, Internasional, Kec. Pekanbaru Kota, Pekanbaru, Riau.
TEMPULING, Domestik, Kab.Indragiri Hilir, Riau.

Nomor Polisi Kendaraan Bermotor :
BM : Riau
BM - R* : Kota Dumai
BM - A* : Kota Pekanbaru

Kode area Telpon :
0760 : Teluk Kuantan (Kab. Kuantan Singingi)
0761 : Kota Pekanbaru; Pangkalan Kerinci (Kab.Pelalawan); Minas; Tualang (Kab.Siak)
0762 : Bangkinang (Kabupaten Kampar); Pasir Pengaraian (Kabupaten Rokan Hulu)
0763 : Selatpanjang (Kabupaten Kepulauan Meranti)
0764 : Siak Sri Indrapura (Kabupaten Siak)
0765 : Kota Dumai; Duri (Kab.Bengkalis); Bagan Batu (Kab.Rokan Hilir); Ujung Tanjung (Kab.Rokan Hilir)
0766 : Bengkalis (Kabupaten Bengkalis)
0767 : Bagansiapiapi (Kabupaten Rokan Hilir)
0768 : Tembilahan (Kabupaten Indragiri Hilir)
0769 : Rengat; Air Molek (Kabupaten Indragiri Hulu)
0624 : Panipahan (Kabupaten Rokan Hilir)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar